Tampilkan postingan dengan label Seri Kotbah Pressure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seri Kotbah Pressure. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Agustus 2017

BLESSING UNDER PRESSURE (Bagian Kedua)

(Morning Devotion at Radio Pelangi Makassar, 02/08/2017)

Ps Joseph Hendrik Gomulya

Kotbah ini masih lanjutan dari serial kotbah Power Under Pressure dan ini adalah kelanjutan dari pembahasan sebelumnya yakni berkat dibawah Pressure, tekanan atau penderitaan, BLESSING UNDER PRESSURE.

Sebelumnya kita akan merefresh kembali apa yang Tuhan sampaikan dalam 3 serial kotbah sebelumnya dimana Tuhan sebenarnya mengijinkan setiap kita untuk mengalami yang namanya Pressure, tekanan atau penderitaan untuk suatu tujuan yang baik buat hidup setiap kita sehingga kita bisa menjalaninya dengan pengertian dan bisa menangkap tujuan Tuhan.

Sangat banyak orang bahkan sampai saat ini yang beranggapan bahwa ketika mereka mengalami yang namanya pressure, tekanan atau penderitaan itu semua adalah buah dari dosa atau kesalahannya padahal tidak semuanya seperti itu seperti penderitaan yang harus dialami oleh Ayub dimana Tuhan mengijinkan semua itu agar Ayub mengenal dan mengalami Tuhan secara pribadi dan bukan lagi dari perkataan orang sehingga kemudian Tuhan mengangkat hidup Ayub lebih tinggi lagi dari sebelumnya. Jadi mari melihat tujuan Tuhan terlebih dahulu bahwa semua pressure, tekanan atau penderitaan yang kita alami adalah ada tujuan Tuhan agar kita memiliki pengenalan akan Tuhan lebih lagi dan mengalami kemuliaan-Nya.

Dalam serial kotbah yang sebelumnya ada beberapa hal yang telah kita pelajari bahwa ketika mengalami atau menghadapi pressure, tekanan atau penderitaan kita harus selalu mengingat penyertaan dan kebaikan Tuhan, bagaimana Tuhan menyelamatkan, menolong atau apapun perbuatan ajaib yang Tuhan pernah buat sebelumnya didalam hidup kita maka pertolongan dan penyertaan-Nya yang sama akan kita alami kembali. Ini juga membuat kita tidak pernah kehilangan pengharapan karena dengan pengharapan itu membuat kita terus tetap tinggal, tetap percaya dan tetap berjalan dengan iman sehingga tidak akan ada lagi persungutan yang keluar dari mulut kita. Tanda seseorang kehilangan pengharapan didalam hidupnya adalah ketika dirinya mulai bersungut-sungut.

Pelajaran kedua yang Tuhan berikan sewaktu kita diijinkan mengalami pressure, tekanan atau penderitaan adalah kita mengetahui bahwa diri kita tidak penting karena hanya Tuhan yang penting. Pressure, tekanan atau penderitaan membuat kita juga menyadari bahwa kita tidak ada apa-apanya, apabila kita sudah sampai di titik seperti yang dialami oleh Rasul Paulus dimana berulang-ulang kali dirinya seperti mengalami jalan buntu sampai harus mempertaruhkan nyawanya. Kita hanya bermegah didalam Kristus, Tuhan yang bertambah besar dan kita semakin berkurang, semua hal yang bisa kita lakukan semuanya karena anugerah Tuhan, inilah yang menghindarkan kita untuk jatuh dalam kesombongan. Semakin kita mengerti bahwa kita ini tidak penting, yang terpenting adalah Tuhan maka hidup kita akan semakin diangkat Tuhan dan jangan hanya sebatas ucapan di mulut saja tetapi harus sungguh-sungguh diwujudkan dalam perkataan dan tindakan kita.

"Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi"
(2 Korintus 1 : 10 TB)

Berkat ketiga yang kita peroleh setelah mengalami pressure, tekanan atau penderitaan adalah kita menjadi lebih baik, menghasilkan kuasa Tuhan. Semakin besar pressure, tekanan atau penderitaan yang dialami maka semakin besar kuasa yang dihasilkan. Jadi ketika kita meminta kuasa yang dari Tuhan atau meminta pengurapan dari Tuhan untuk hidup kita menjadi berkat bagi jiwa-jiwa maka kita harus mengerti suatu hal yaitu kita harus siap untuk mengalami pressure, tekanan atau penderitaan yang lebih besar dimana disitulah kuasa yang besar itu dihasilkan. Tidak akan ada cerita yang sungguh-sungguh bisa menjadi berkat tanpa melalui pressure, tekanan atau penderitaan, jadi mari sebagai orang percaya melihat semua proses itu sebagai sebuah kesempatan untuk Tuhan dimuliakan, sebagai kesempatan ilahi dimana Tuhan menyatakan dirinya.

"Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan" (Roma 5 : 3 TB)

"And not only this, but [with joy] let us exult in our sufferings and rejoice in our hardships, knowing that hardship (distress, pressure, trouble) produces patient endurance" (Roma 5 : 3 AMP)

Dikatakan “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita”, dalam terjemahan bebas Amplified Bible (AMP) dikatakan Bermegah dalam pressure, tekanan atau penderitaan dimana itu menghasilkan ketekunan. Jadi sewaktu mengalami pressure, tekanan atau penderitaan kita tidak seharusnya bersedih tetapi bermegah dan mengucap syukur, itu kelihatan dari respon dan sikap hati kita. Ada banyak orang yang terus-menerus mengalami penderitaan atau kesengsaraan dalam hidupnya tetapi Tuhan juga tidak pernah sungguh-sungguh dimuliakan karena diresponi dengan kemarahan, kekecewaan dan Kepahitan sehingga tidak ingin lagi terlibat dalam pelayanan dan justru semakin menjauh dari Tuhan. Mari menjadi dewasa didalam Tuhan dengan mempunyai respon yang dewasa dan sesuai dengan firman Tuhan. BERMEGAH disini berarti kita memuliakan Tuhan, mengucap syukur, meninggikan Tuhan dan semakin bersungguh-sungguh melayani Tuhan karena tujuan dari pressure, tekanan atau penderitaan adalah untuk membawa kita semakin tekun, beriman dan mempunyai pengharapan melalui Kristus.

Dalam artikel serial kotbah diatas dan serial kotbah sebelumnya sudah dijelaskan bahwa seringkali kita berdoa kepada Tuhan untuk memberi kita passion maka yang Tuhan berikan adalah pressure, tekanan atau penderitaan dimana ini adalah cara Tuhan agar supaya passion atau cinta kita akan Tuhan semakin naik, jadi untuk menghasilkan passion yang kuat maka takaran pressure, tekanan atau penderitaannya akan semakin besar atau kuat. Apabila takaran pressure, tekanan atau penderitaan belum membuat kita bersungguh-sungguh dengan Tuhan maka akan ada pressure, tekanan atau penderitaan yang lebih besar lagi agar passion yang didalam kita keluar. Inilah adalah cinta dan kasih Tuhan kepada setiap kita karena dengan passion kita bisa mengerjakan banyak hal dan itu sangat berbeda dengan melakukan sesuatu tanpa ada passion dimana kita melakukan sesuatu tanpa ada gairah.

Setiap kita adalah orang-orang yang dipilih Tuhan, seperti Daniel yang mengalami pressure, tekanan atau penderitaan ketika dibuang ke gua singa, tetapi dalam penderitaan itu Tuhan menyatakan kuasa-Nya yang luar biasa. Begitupun dengan Yusuf yang dijual dan dijadikan budak bahkan awalnya sebenarnya hendak dibunuh oleh saudara-saudaranya, bahkan kemudian harus mengalami hidup dalam penjara dalam waktu yang lama dimana itu adalah cara Tuhan untuk mempersiapkan Yusuf menjadi Perdana Menteri. Jadi pressure, tekanan atau penderitaan yang lebih besar adalah kesempatan untuk kita mengalami kuasa Tuhan, mengalami kemuliaan Tuhan dan mengalami Tuhan yang hidup. Ketika Tuhan ingin mengangkat hidup kita maka yang kita alami awalnya bukan kebaikan tetapi justru sepertinya kehancuran dimana itu adalah bagian dari proses untuk mempersiapkan kita, apabila kita bisa mengerti akan hal ini maka respon kita ketika mengalami pressure, tekanan atau penderitaan akan sangat berbeda karena itu adalah kesempatan, keunggulan, momen untuk Tuhan mempromosi dan menjadi pelajaran berharga ketika kita dibawah naik oleh Tuhan. Semakin lama kita berada dalam pressure, tekanan atau penderitaan seharusnya ada sebuah posisi yang sungguh-sungguh tinggi karena didalam pressure, tekanan atau penderitaan yang terus-menerus itu berarti kita sedang dipersiapkan, kita melihat bagaimana Tuhan bekerja, melihat keajaiban dan kuasa yang Tuhan kerjakan.

Pressure, tekanan atau penderitaan juga menghasilkan atau menaikkan level penyembahan seseorang karena ketika mengalami itu orang pasti akan mencari kaki Tuhan, hatinya akan berseru dan terkoneksi dengan Tuhan dan kemudian menghargai bagaimana hubungan bergantung kepada Tuhan. Di titik yang paling dasar ini orang terkadang tidak mempunyai lagi pegangan selain hanya bergantung dan berharap kepada Tuhan, di titik inilah lahir penyembah-penyembah yang sungguh-sungguh menaruh seluruh hidupnya di tangan Tuhan, hidupnya tidak bisa jauh dari Tuhan, hatinya menyatu, melekat, sepakat dan berjalan bersama Tuhan serta tidak memiliki lagi keinginan yang lain.

Firman ini seperti permata berharga yang tidak pernah dilihat orang, kelihatannya hanya seperti sebuah bongkahan batu yang biasa yang belum terbentuk, tidak banyak orang yang mengetahui betapa bernilai permata yang ada didalam bongkahan itu. Batu itu harus digosok dengan sebuah tekanan dan gesekan yang lebih keras agar bisa didapatkan sebuah bongkahan pemata dan ketika permata itu jatuh ke ahli pembuat permata, dia akan mengetahui bagaimana cara membentuk permata itu menjadi permata yang indah, berkilau dan sangat bernilai.

Hidup setiap kita sebenarnya seperti permata yang mempunyai nilai yang besar tetapi apabila kita tidak mengijinkan atau menaruh kita kepada penjunan atau ahli pembuat permata yaitu Tuhan sendiri, Dia satu-satunya yang ahli bagaimana membentuk sudut-sudut dari hidup kita agar berkilau dan bersinar dimana awalnya semua kotoran dihidup kita harus disingkirkan. Bagian permukaannya harus di cuci terlebih dahulu kemudian sudut-sudutnya harus dibentuk dengan cara ditekan, dipukul dan digosok. Tekanan dan cara dalam memukul dan menggosok sebuah permata berbeda satu sama yang lainnya, bahkan banyaknya sudut yang harus di potong juga berbeda-beda. Tuhan adalah satu-satunya yang ahli dalam membentuk hidup kita, pilihannya adalah apakah kita mau mempercayai atau tidak bahwa setelah pressure, tekanan atau penderitaan kita menjadi lebih baik.

Pressure, tekanan atau penderitaan adalah tempat dimana kita bermegah karena Tuhan akan memproduksi kuasanya yang lebih besar, semakn besar tekanannya semakin besar kuasa yang dihasilkan. Pressure, tekanan atau penderitaan adalah golden time untuk kita mengalami kuasa yang lebih besar. apabila kita dianiaya oleh orang lain, digosipin, atau dijelekkan oleh orang lain, milikilah respon bermegah dengan mengucap syukur dan tetap percaya kepada Tuhan maka kita akan melihat Tuhan justru mempromosi atau mengangkat hidup kita lebih tinggi, Tuhan akan membawa dan mempercayakan banyak hal dan Nama Tuhan dipermuliakan.

Amen, Tuhan Yesus Memberkati…


Minggu, 13 Agustus 2017

POWER UNDER PRESSURE (Bagian Kedua)

(Morning Devotion at Radio Pelangi Makassar, 31/07/2017)


Ps Joseph Hendrik Gomulya


Kata tekanan atau penderitaan dalam bahasa inggris dipakai kata “PRESSURE”, ini adalah kata yang dipakai oleh seluruh murid-murid Tuhan Yesus dan itu menjadi kebanggaan bagi mereka ketika harus mengalami pressure, tekanan atau penderitaan, mereka bangga ketika mereka menderita bagi Kristus. Tetapi ini yang kontras terjadi hari-hari ini dimana anak-anak Tuhan sekarang tidak seperti murid-murid Tuhan Yesus dahulu atau minimal memiliki sudut pandang yang sama dengan murid-murid Kristus.

Rasul Paulus beberapa kali menulis tentang “PRESSURE” dimana semua itu dilakukannya sebagai sebuah kebanggaan atau kesukaan. Rasul Paulus sama sekali tidak menulis itu sebagai sebuah keluhan tetapi dia menulisnya dengan pewahyuan bahwa itu adalah sebuah kesempatan atau kebanggaan dimana dia bisa mengalami penderitaan karena Kristus. Ini berbanding terbalik dari sebagian orang yang ingin hidup dan melayani Tuhan tetapi takut menghadapi yang namanya pressure, tekanan atau penderitaan dimana orang-orang tersebut lebih memilih untuk hidup yang nyaman dan enak sehingga mereka tidak pernah sungguh-sungguh sampai kepada panggilan Tuhan.

Apabila kita belajar dari orang atau nabi-nabi yang dipakai oleh Tuhan mulai dari Perjanjian lama sampai Perjanjian baru sesungguhnya tidak ada hidup yang seperti pandangan orang pada umumnya ketika pertama kali ikut Tuhan. Pandangan bahwa hidup kekristenan itu adalah hidup yang nyaman, enak dan bisa semauanya itu adalah sebuah kekeliruan karena Tuhan Yesus jelas berkata bahwa jaln ke sorga itu sempit.

Mari memiliki pandangan yang sama karena apabila pandangan kita berbeda maka kita tidak bisa menjadi orang yang kuat atau siap untuk dipakai oleh Tuhan, tidak bermalas-malasan dan melo-melo. Harus bangkit orang-orang yang kuat dan siap untuk dipakai oleh Tuhan, yang memiliki hati yang mudah untuk dibentuk oleh Tuhan, yang mengutamakan Tuhan lebih dari perasaannya sendiri karena perasaan manusia bisa menghancurkan diri manusia itu sendiri. Jadi ketika menghadapi pressure, tekanan atau penderitaan hal pertama yang harus diperhatikan adalah perasaan karena tidak ada seorang pun manusia ketika berada dalam pressure, tekanan atau penderitaan  perasaannya akan senang-senang saja, tetapi yang penting adalah bagaimana ketika sedang berada dalam pressure, tekanan atau penderitaan setiap kita tidak bersedih tetapi justru bersukacita karena kita sedang berada dalam rencana Tuhan yang ajaib dan besar. setiap keadaan atau apapun yang kita alami ada rencana Tuhan yang luar biasa dan membuat kita menjadi lebih baik setelah mengalami Pressure, tekanan atau penderitaan.

Seperti sudah dijelaskan diatas bahwa kata “PRESSURE” atau penderitaan itu adalah TEKANAN dimana ketika semakin ditekan maka yang keluar itu akan kelihatan apakah itu murni ataukah berpusat pada kepentingan diri sendiri? sampah, kepahitan atau kemanisan, kemuliaan Tuhan?

Ketika menghadapi pressure atau tekanan kita bisa mengerti dan melihat dari respon yang kita berikan dimana kita bisa mengukur level atau tingkat kerohanian kita sampai dimana. Ketika menghadapi pressure atau tekanan kemudian yang keluar itu adalah kepahitan, disini kita bisa melihat bahwa kita belum benar-benar terbebas dari sisi ini ataukah ketika kita melihat ada orang baru yang kemudian langsung dipakai Tuhan kemudian didalam hati muncul rasa iri dan marah, itu adalah ukuran bahwa kita belum benar-benar terbebas dari hal yang lama dimana dalam kejadian seperti ini seharusnya kita bisa membopong, berkorban dan menjadi pijakan untuk orang lain naik dan Tuhan disukakan. Terkadang Tuhan ingin menguji kita untuk berkorban karena Tuhan terkadang ingin memakai orang lain yang mungkin belum kita kenal sebelumnya dan kelihatannya sangat sederhana tetapi ketika kita mau sepakat dengan Tuhan untuk siapa yang Tuhan pilih dan bagian kita hanya menolong dan membopongnya, disinilah tercermin apakah kita mengejar sesuatu yang lain atau ingin melihat kemuliaan Tuhan yang lebih besar sekalipun yang Tuhan pakai adalah orang lain.

Apabila dalam hal-hal yang terkecil dari hidup kita, kita tidak bisa memberi bagaimana apabila kita harus menyerahkan nyawa kita sendiri atau memberi dari semua yang kita miliki? Jangan pernah membawa agenda pribadi dalam pelayanan, itu namanya membawa penderitaan sendiri. Penderitaan yang terjadi karena agenda pribadi yang tidak terwujud atau terlaksana dan menyebabkan sakit hati itu bukan penderitaan karena Kristus. Yang dimaksud penderitaan karena Kristus adalah ketika kita menderita untuk injil itu diberitakan, tetapi ada hal yang Tuhan juga ingin bereskan didalam kita agar supaya segala sampah, kepahitan dan kedagingan yang masih ada didalam kita bisa keluar dan kita potong sehingga yang muncul sungguh-sungguh kemuliaan Tuhan.

(2 Korintus 1 : 8 - 11 TB)

"Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami."    (2 Korintus 1 : 8 TB)

Ada beban pelayanan yang begitu berat yang Tuhan taruh di Asia kecil kepada Rasul Paulus dimana sangat jelas dikatakan bahwa beban itu begitu besar dan berat sehingga hampir membuat Rasul Paulus merasa bahwa dirinya tidak sanggup untuk menjalaninya. Kita mengetahui bahwa ketika Rasul paulus melakukan pelayanan di Asia kecil  dia ditolak, dianiaya dan dirajam batu sampai hampir mati tetapi semua pressure, tekanan atau penderitaan itu tidak sedikit pun membuatnya mundur malahan pelayanan Rasul Paulus semakin bergerak maju.

Harus ada banyak hal dihidup kita yang dirancang oleh Tuhan untuk nantinya membawa kita semakin dewasa, semakin baik didalam Tuhan dan tidak bisa dipungkiri bahwa agenda pribadi, keegoisan, keinginan sendiri dan kedagingan itu harus disingkirkan agar supaya ketika menghadapi pressure, tekanan atau penderitaan yang keluar adalah yang ilahi.

"Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati." (2 Korintus 1 : 9 TB)

Mari melihat apa yang menjadi tujuan Tuhan karena ternyata hal menghambat adalah orang yang mengandalkan diri sendiri atau kemampuannya sendiri. Semakin dipakai Tuhan, semakin banyak firman Tuhan yang didapatkan dan dipelajari tetapi apabila itu tidak sungguh-sungguh masuk kedalam roh maka yang muncul adalah kepercayaan kepada diri sendiri atau seakan-akan mengetahui banyak hal dan inilah yang Tuhan ingin runtuhkan agar setiapkita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Ketika Tuhan ingin memurnikan yang didalam kita lebih lagi itu sangat baik buat kita karena untuk Tuhan memakai setiap kita dalam rencana-Nya yang besar terkadang yang menghambat itu bukan orang lain karena tidak ada seorang pun yang bisa menghambat rencana Tuhan tetapi justru diri kita sendiri. apabila kita bisa membereskan yang ada didalam hati kita maka kita akan melihat Tuhan memangkitkan hidup kita dan melihat yang ilahi itu keluar. Mari jujur dengan diri sendiri karena justru itu yang akan membawa kita melihat kuasa Tuhan yang tanpa batas termasuk membangkitkan orang mati.

Pressure, tekanan atau penderitaan itu diijinkan oleh Tuhan agar supaya setiap kita mengalami kebangkitan hidup, agar supaya  yang ilahi itu muncul, kita ibarat anak panah yang Tuhan persiapkan untuk melesat lebih jauh lagi karena tidak pernah orang yang hidupnya santai atau hidup seenaknya bisa dipakai oleh Tuhan. Orang yang hidupnya ingin dipakai oleh Tuhan adalah orang yang mengijinkan dirinya untuk mengalami pressure, tekanan atau penderitaan itu karena percaya itu adalah awal dari kebangkitan Tuhan, itu menjadi kesukaan dan baik bagi hidupnya dan tidak membuatnya menjadi lemah.  Jangan membuat kepercayaan Tuhan kepada kita hilang atau mundur, ketika ujian itu datang ubahlah yang didalam kita, apabila kemarin mungkin yang muncul adalah kepahitan, sekarang yang muncul adalah kebangkitan, passion dan kemurnian.

Rasul Paulus mengalami seolah-olah seperti telah dijatuhi hukuman mati tetapi Rasul Paulus kemudian sadar untuk dirinya tidak menaruh kepercayaan kepada dirinya sendiri. Rasul Paulus juga sama dengan hampir semua orang yang dipakai oleh Tuhan dimana itu bisa tiba-tiba memunculkan kepercayaan diri yang besar ketika hidup kita dipakai oleh Tuhan dan kemudian tiba-tiba itu mampu menjadi berkat bagi banyak orang dimana banyak orang yang bertobat berbalik kepada Tuhan, orang-orang disembuhkan dan orang-orang datang berbondong-bondong kepada anda maka pasti akan muncul kepercayaan diri, inilah yang Tuhan ingin murnikan agar setiap kita hanya percaya hanya kepada Tuhan.

"Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi,"
(2 Korintus 1 : 10 TB)

Dalam masa-masa menghadapi pressure, tekanan atau penderitaan, semakin besar tekanan itu sebenarnya semakin kuat senjata itu diluncurkan. Ada sebuah artikel menuliskan pistol mainan kecil yang diisi oleh air ketika ditembakkan maka air yang keluar akan keluar sejauh 2 meter, ketika pistol mainan itu diganti dengan yang lebih besar atau yang memiliki tekanan lebih kuat maka air yang keluar akan semakin jauh. Apabila yang dipakai adalah pistol sungguhan, peluru yang ada didalamnya akan meluncur keluar bergantung kepada tekanannya semakin besar tekanannya maka semakin jauh atau kuat pelurunya akan meluncur kepada sasaran.

Contoh lainnya adalah anak panah, apabila tarikannya itu renggang maka anak panah itu tidak akan meluncur jauh tetapi apabila tekanan tarikan anak panah  kebelakang semakin kuat maka semakin jauh pula anak panah itu akan melesat. Pilihan sekarang ada pada setiap kita, tetapi pilihlah seperti yang Tuhan inginkan. Lihat dan milikilah cara pandang yang sama dengan Tuhan bahwa pressure, tekanan atau penderitaan yang kita terima adalah persiapan untuk sebuah level baru yang Tuhan inginkan atas hidup kita dan kita mesti siap untuk itu, seperti Rasul paulus yang menghargai setiap tekanan.

Cara orang yang masih kanak-kanak dan orang yang sudah dewasa menyikapi pressure, tekanan atau penderitaan sangat berbeda. Orang yang masih kanak-kanak atau bayi-bayi rohani akan lari dari Tuhan dan yang keluar adalah kepahitan dan sampah-sampah tetapi orang yang dewasa akan mengetahui bahwa pressure, tekanan atau penderitaan itu adalah untuk membawa tuaian yang besar.

Ada sebuah kepercayaan Tuhan didepan kita dan itu sebenarnya tidak mudah dan diluar batas kemampuan seorang manusia tetapi mari menyukai ini untuk supaya injil diberitakan. Keadaan mungkin bisa memberi kita pressure atau tekanan karena setiap pressure atau tekanan mempunyai level atau tingkatan, ketika pressure atau tekanan itu semakin kuat itu berarti Tuhan ingin membawa setiap kita, setiap gereja-Nya mempunyai atau menjadi dampak yang jauh kedepan dengan tidak lagi menjadi bayi-bayi rohani dengan memberi respon yang salah karena setiap kita adalah orang-orang yang sudah REDOMINATE, orang-orang yang terbang tinggi yang siap menduduki dan menguasai. Setiap kita harus membiasakan diri untuk bisa melakukan banyak hal dan tanggung jawab dengan efektif, harus bisa bergandengan tangan, unity dan bekerja sama satu dengan yang lainnya dimana itu adalah tanda bahwa setiap kita sudah dewasa.



Amin, Tuhan Yesus Memberkati…

 

Rabu, 09 Agustus 2017

POWER UNDER PRESSURE (Bagian Pertama)





(Morning Devotion at Radio Pelangi Makassar, 28/07/2017)


Ps Joseph Hendrik Gomulya 





Sangat banyak orang yang takut untuk mengalami yang namanya tekanan, aniaya atau penderitaan padahal sebenarnya semua itu adalah bagian dari rencana Tuhan untuk kebaikan setiap kita. Hal ini dituliskan dalam firman Tuhan dan setiap kita mesti menangkap ini karena konotasi dari tekanan, aniaya atau penderitaan di luar Tuhan itu adalah sesuatu yang buruk, tidak baik dan harus dihindari.

Sebagai orang percaya atau sebagai anak-anak Tuhan kita mengetahui bahwa semua hal yang terjadi dalam hidup kita tidak pernah sebagai sebuah kebetulan karena segala sesuatunya adalah dalam rancangan Tuhan untuk kebaikan kita anak-anak-Nya termasuk ketika mengalami tekanan, aniaya atau penderitaan.

Ada rencana Tuhan yang luar biasa sewaktu kita menangkap hal ini sehingga kita akan masuk dan mendapatkan berkat Tuhan dengan sikap hati yang tepat dan kita menjadi orang-orang yang kuat serta mempunyai kuasa ketika menghadapi tekanan, aniaya atau penderitaan.

Seperti dengan apa yang dialami oleh Daud ketika dirinya diburu-buru oleh raja saul yang hendak membunuhnya. Ketika dirinya sudah menjadi raja, dia terus mengalami banyak tekanan dan melalui beberapa perwiranya bahkan sampai mengalami proses kehilangan tahtanya oleh anaknya sendiri tetapi Tuhan kemudian mengembalikan itu dan kembali menjadi raja


 "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." (2 Korintus 4 : 7 TB)

Firman Tuhan berkata bahwa harta yang kita punyai dalam tanah liat ini artinya adalah kita sebagai tanah liat dan harta yang Tuhan berikan adalah kekuatan yang melimpah-limpah, kekuatan yang berasal dari Allah dan bukan dari diri kita. Jadi kita mesti menyadari bahwa kita ini adalah bejana tanah liat yang sedang dan terus akan dibentuk oleh Tuhan.

Ketika kita mengerti bahwa kita adalah bejana tanah liat yang berada didalam proses dan sewaktu berada dalam proses Tuhan akan memberikan kekuatan yang melimpah-limpah dalam menghadapi proses itu. Dijelaskan bahwa kekuatan yang melimpah itu diberikan sewaktu kita berada didalam proses. Pertanyaannya, sampai kapan proses itu berlangsung?

Didalam hidup kita jangan pernah menanyakan kapan proses itu akan berhenti tetapi justru cintai dan sukailah prose situ karena selama kita hidup proses itu akan terus ada karena Tuhan ingin membawa kita dari satu kemuliaan kepada kemuliaan berikutnya, ada KEKUATAN DIBAWAH PENDERITAAN.

 "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;" (2 Korintus 4 : 8 TB)

Rasul Paulus berkata bahwa dirinya mengalami tekanan, aniaya atau penderitaan dalam segala hal dan bukan hanya dari satu sisi. Ada banyak hal dalam hidup kita yang harus dibereskan , harus mengalami yang namanya tekanan, aniaya atau penderitaan agar yang muncul atau keluar adalah KEKUATAN, RENCANA DAN KEMULIAAN TUHAN. Sangat banyak orang ketika berada dalam tekanan dan merasa seperti tertindas akan kabur atau lari, tetapi sebagai anak-anak Tuhan seperti yang Rasul Paulus katakan “namun tidak terjepit” dimana selalu saja ada cara Tuhan untuk menolong setiap kita, ada kemurahan, kebajikan dan kekuatan Tuhan yang muncul dibalik tekanan, aniaya atau penderitaan agar supaya kemuliaan Tuhan itu yang muncul.

Kemudian dikatakan “kami habis akal, namun tidak putus asa”. Seperti kita ketahui bersama Rasul Paulus adalah seorang yang sangat pandai, sangat terpandang di seluruh Israel dan menulis begitu banyak isi hati Tuhan atau pewahyuan dari Tuhan dalam Perjanjian Baru tetapi disini Rasul Paulus menulis bahwa dirinya kehabisan akal atau dirinya mengalami jalan buntu menghadapi tekanan, aniaya atau penderitaan yang dialaminya tetapi ajaibnya dia tidak berputus asa.

Apa yang dialami oleh Rasul Paulus ini adalah pelajaran yang mesti kita ambil karena ketika orang mengalami jalan buntu dan tidak ada lagi jalan keluar, orang akan angkat tangan atau menyerah. Tetapi apabila kita mengetahui kekuatan Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan akan membuat kita tidak berputus asa dan hidup dengan iman yang lebih kuat dimana dari sinilah akan muncul atau turun semua hikmat dan kekuatan Tuhan yang melimpah atas hidup setiap kita sewaktu otak, pikiran dan kekuatan manusia kita tidak mampu lagi.




"kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa."
                                                             (2 Korintus 4 : 9 TB)

Setiap kita sebagai hamba Tuhan jangan pernah takut dengan tekanan ataupun aniaya. Aniaya bisa muncul dalam banyak hal tetapi yang mesti kita ketahui dan ini harus selalu menjadi pegangan setiap kita bahwa ada kekuatan Tuhan yang melimpah, ada berkat Tuhan ketika kita berada dalam tekanan, aniaya atau penderitaan seperti Rasul Paulus ketika beberapa kali mengalami aniaya melalui lemparan batu, dirinya diseret keluar dari sebuah kota tetapi dirinya mampu bangkit lagi dan masuk kembali ke kota tersebut melanjutkan perjalanannya.

Apabila kita membandingkan apa yang Rasul Paulus tuliskan ini dengan apa yang kita alami masih terlalu sedikit. Mari jadikan Rasul Paulus sebagai teladan bagaimana dirinya menghadapi semua tekanan, aniaya dan penderitaan tersebut.

 "Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami"
(2 Korintus 4 : 10 TB)

Sewaktu mengalami tekanan, aniaya atau penderitaan itu adalah cara atau tujuan Tuhan untuk mematikan kedagingan setiap kita untuk kemudian yang muncul adalah respon ilahi. Sewaktu kita membawa kematian Yesus didalam tubuh kita itu artinya kita mematikan setiap kedagingan kita dan kemudian yang keluar adalah kekuatan, cara dan respon Tuhan maka kekuatan Tuhan yang melimpah itu akan kelihatan.

Ketika sebagai orang yang percaya kita hanya bisa bersyukur ketika menerima berkat-berkat Tuhan tetapi ketika mendapatkan tekanan, aniaya atau penderitaan tidak bisa bersyukur, apa bedanya kita dengan orang dunia yang belum percaya kepada Tuhan Yesus?

Ketika kita mengalami tekanan, aniaya atau penderitaan disinilah justru kekuatan Allah yang melimpah itu dengan membawa kematian Tuhan Yesus. Ada hal yang ingin Tuhan matikan dalam hidup kita ketika kita mengalami tekanan, aniaya atau penderitaan, ada hal yang Tuhan sedang bentuk dalam hidup kita sebagai bejana tanah liat, ada hal yang Tuhan harus angkat dan bereskan dengan mematikan setiap kedagingan kita untuk supaya kekuatan yang ilahi itu bisa keluar dan menjadi nyata.

 "Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini"
(2 Korintus 4 : 11)


Rasul paulus berkata bahwa hidup ini terus “diserahkan kepada maut karena Tuhan Yesus”. Jadi seseorang yang hidupnya ingin dipakai oleh Tuhan jangan pernah berpikir bahwa hidup kekristenan itu adalah kehidupan yang enak dan terus berada dalam kenyamanan. Kemuliaan Tuhanlah yang membawa hidup kita terus semakin dipakai oleh Tuhan sewaktu Tuhan Yesus nyata didalam hidup kita dimana hidup kita senantiasa diserahkan kepada maut karena Yesus.

Jadi mari mematikan setiap kedagingan kita dan ijinkan untuk kita mengalami itu terus-menerus. Ada banyak hal ketika kita semakin dipakai oleh Tuhan dan sepertinya itu tidak mudah untuk kita lakukan, kalau istilah Engkong Yusak Tjipto “ngeri-ngeri sedap” tetapi Tuhan selalu meluputkan dan menolong.

 "Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: "Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata ", maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata"
(2 Korintus 4 : 12 – 13 TB)

Setiap kita orang percaya mempunyai roh iman yang sama, mengalami proses yang sama dimana ada sebuah kekuatan melalui perkataan iman dari setiap perkataan firman Tuhan yang kita ucapkan dan perubahan terjadi. Jadi sewaktu kita mengalami tekanan, aniaya atau penderitaan jangan mengucapkan hal yang lain tetapi ucapkanlah perkataan firman Tuhan dan hidupkan itu dalam hidup kita untuk menjadi berkat bagi hidup kita dan orang lain.

Semakin besar tekanan, aniaya atau penderitaan semakin muncul kekuatan Tuhan, semakin besar besar tekanan semakin nyata dan melimpah-limpah kuasa dari Tuhan Yesus dalam hidup setiap kita. Kita bisa belajar dari melihat kehidupan Ahok yang hari-hari ini hidupnya menjadi teladan bagi setiap orang percaya, kita bisa melihat ketika Ahok berada dalam tekanan dirinya justru bisa belajar banyak hal dimana tidak mudah untuk orang seperti Ahok bisa belajar menjadi sabar ketika menghadapi tekanan karena dirinya dilahirkan di lingkungan yang memang agak keras sehingga ketika berbicara memang terdengar sedikit agak keras tetapi sebenarnya hatinya sangat lembut. Kita bisa melihat respon yang ahok berikan ketika dirinya mengalami proses dimana hatinya berubah menjadi sangat lembut dan tidak membalas orang-orang yang menganiayanya.

"Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya."
(2 Korintus 4 : 14 TB)


Kebangkitan yang dimaksud bukan hanya kebangkitan dari kematian tetapi juga setiap kali menghadapi tekanan, aniaya atau penderitaan ada kuasa kebangkitan Tuhan dalam hidup kita, ada kekuatan yang bukan dari kemanusiaan kita. Seperti sewaktu Tuhan Yesus bangkit dari maut, sekalipun keadaan kita sepertinya selalu berhadapan dengan maut tetapi karena maut tidak pernah bisa berkuasa atas Tuhan Yesus maka maut pun tidak akan pernah berkuasa atas hidup kita karena ada kuasa kebangkitan atas hidup kita. Jadi sewaktu mengalami kelemahan mari kita selalu mengandalkan Tuhan untuk mengalami kebangkitan Tuhan didalam hidup kita begitu pun ketika kita mengalami suatu penyakit, percaya dan imani bahwa Tuhan Yesus adalah jawaban atas setiap penyakit kita.

"Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah." 
(2 Korintus 4 : 15 TB)

Tekanan, aniaya atau penderitaan yang intensitasnya semakin banyak itu semua agar semakin melimpah kasih karunia Tuhan atas hidup kita dan melalui hidup kita Tuhan juga menginginkan semakin banyak orang yang percaya dari melihat Yesus yang berkarya melalui hidup kita dan bagi diri kita pribadi akan semakin banyak ucapan syukur yang keluar dari mulut kita yang semuanya untuk kemuliaan Nama Tuhan.

Mari mencontoh dari Yusuf yang mengalami banyak penderitaan ketika dirinya di buang oleh saudara-saudaranya dan dijadikan budak  bahkan awalnya sebenarnya dirinya hendak dibunuh. Setelah menjadi budak dari potifar dan diberi kepercayaan atas seisi rumah potifar tetapi oleh karena kebenaran dan menjaga kekudusan serta takut akan Tuhan dia harus merasakan hidup dalam penjara karena sebuah fitnah bahwa dirinya tidur dengan istri potifar. Mungkin seringkali ketika kita sudah hidup dalam kebenaran dan takut akan Tuhan tetapi yang kita alami malah penderitaan, ada banyak orang yang tidak menyukai kita dan berusaha untuk menjatuhkan. Tetapi percayalah ada kekuatan Tuhan yang melimpah dimana inilah yang dialami oleh Yusuf, dia menolong banyak orang dalam hidupnya tetapi orang yang ditolongnya melupakan dirinya untuk supaya Yusuf bias belajar berharap, percaya dan bergantung kepada Tuhan.

Ada selalu berkat dibalik penderitaan seperti ketika Yusuf dipulihkan dan kemudian diangkat menjadi Perdana Menteri tetapi dia juga harus menghadapi bahaya kelaparan pada bangsa dan keluarganya tetapi atas hikmat dari Tuhan  dia bukan hanya bisa menolong keluarganya tetapi seluruh penduduk Mesir, Israel dan bangsa-bangsa yang lain.

"Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari." 
(2 Korintus 4 : 16 TB)


Salah satu siasat daripada iblis adalah membuat orang menjadi tawar hati ketika sedang mengalami proses demi proses, penderitaan demi penderitaan. Seperti Rasul Paulus ketika mengalami semua itu dirinya tidak menjadi tawar hati karena kita perlu dibahaui dari hari ke hari  karena kita adalah bejana tanah liat yang terus dibentuk untuk mengalami kemuliaan Tuhan hari demi hari.


 "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korintus 4 : 17 TB)

Penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan Tuhan dan ada kekuatan yang melimpah, ada kekuatan dibawah penderitaan sewaktu kita mengalami itu agar supaya kita menjadi semakin kecil atau berkurang dan Tuhan yang semakin besar dan nyata melalui respon dan cara kita dimana ketika kita mengalami penderitaan yang keluar haruslah perkataan firman Tuhan karena ada kemuliaan yang kekal yang dikerjakan.

 "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal"
(2 Korintus 4 : 18 TB)


Sewaktu mengalami penderitaan disitulah sebenarnya iman kita di uji, disitulah kita berjalan dengan iman karena kita hidup bukan memperhatikan yang kelihatan melainkan yang tidak kelihatan, kita hidup dengan apa yang kita tidak lihat, kita berjalan dengan iman dan percaya. Mari selalu memandang kepada Yesus dan biarkan Dia nyata bekerja didalam setiap kita.






Amin, Tuhan Yesus Memberkati…

MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama)

  MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama) Sabtu, 04 Februari 2023 Ps Joseph Hendrik Gomulya           Sejak awal manusia diciptakan Allah ...