Selasa, 29 September 2020

KINGDOM LIFESTYLE (Budaya Kerajaan Allah/Budaya Kristus)

 KINGDOM LIFESTYLE

(Budaya Kerajaan Allah/Budaya Kristus)


Oleh Ps Joseph Hendrik Gomulya, M.Th

 



          Sebelum mengenal Tuhan, di dunia kita mengenal dan mempunyai berbagai macam budaya yang tanpa disadari itu masuk kedalam sendi kehidupan kita. Sehingga seringkali kita melihat banyak orang yang sudah mengenal Kristus tetapi masih melakukan budaya duniawi atau gaya hidupnya masih duniawi. Melalui tulisan ini kita akan mengulas bagaimana cara kerja budaya Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga/Budaya Kristus itu masuk kedalam hidup kita. Sehingga orang lain akan melihat cara/budaya/ lifestyle hidup kita yang berbeda.

          Sebelum kita mengenal Kristus, sesungguhnya ada banyak budaya, cara atau gaya hidup (lifestyle) dunia yang masuk kedalam hidup kita di segala aspek. Saat kita mengenal Kristus, tidak secara otomatis atau tiba-tiba budaya, cara atau gaya hidup (lifestyle) itu berubah. Pembaharuan akal budi adalah budaya, cara atau gaya hidup (lifestyle) yang berubah dari duniawi menjadi budaya Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga/Kristus dan orang lain kemudian akan melihat perubahan itu.

 

 

(Roma 12:2 TB)

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

  • 1)    Membedakan Manakah Kehendak Allah.

          Salah satu contoh budaya, cara atau gaya hidup (lifestyle) yang berubah adalah budaya untuk menghomati orang lain.

(Roma 12:10 TB)

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”

(Matius 5:44 TB)

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

 

          Inilah perbedaan budaya Kerajaan Allah/Kristus dengan budaya dunia. Dalam budaya Kerajaan Allah/Kristus kita mesti mengasihi orang lain termasuk musuh atau orang yang membenci kita karena dia juga adalah ciptaan Tuhan. bahkan firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa kita juga mesti mendoakannya. Ini tentu sangat kontras dengan budaya, cara atau gaya hidup dunia yang berkata segala kejahatan itu harus dibalas lebih lagi atau dengan kata lain kejahatan yang dilakukannya harus dibalas dengan kejahatan yang lebih lagi sampai dia merasakan kejahatan yang dulu dibuatnya.

          Saat seseorang mengalami dan hidupnya diubahkan oleh firman Tuhan, sebelum budaya Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga/Kristus menjadi budaya, cara atau gaya hidupnya (lifestyle), itu sesuatu yang harus dilakukan terus-menerus, hari demi hari bukan hanya sekali-kali atau hanya sekedar dimengerti. Jadi harus sampai pada titik dimana orang tersebut benar-benar menghidupinya terus-menerus atau menjadi budaya, cara atau gaya hidupnya (lifestyle). Kita belum bisa mengatakan seseorang menghidupi budaya Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga/Kristus apabila hanya sebatas dimengerti. Contohnya: saat bertemu dengan orang yang membenci anda dan bahkan anda juga mungkin tidak menyukainya dan kemudian anda tidak menyapanya. Tetapi saat firman Tuhan diatas datang pada anda maka yang terjadi adalah anda akan menyapanya bahkan memberkatinya dengan membelikannya makanan atau minuman. Hati anda tidak lagi terusik atau terganggu dan tidak lagi membencinya bahkan anda bisa mendoakannya.

          Jadi Pola pikir lama atau pola pikir duniawi mengatakan kejahatan seseorang harus dibalas dengan kejahatan 100 kali lipat atau lebih dari yang pernah dilakukannya, mata ganti mata. Tetapi sewaktu budaya Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga/Kristus masuk dalam kehidupan seseorang melalui firman Tuhan maka orang tersebut akan mengerti apa kehendak Allah yaitu tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Sehingga sangat penting untuk kita selalu membaca firman-Nya untuk mengetahui dan mengenal apa yang menjadi kehendak-Nya.

 

  • 2)    Apa Yang Baik.

          Dahulu untuk mengetahui sesuatu yang baik itu melalui hati nurani, yang membuat secara manusia kita mengetahui mana yang baik dan mana yang jahat. Tetapi dalam pembaharuan akal budi, mana yang baik itu bukan lagi takaran hati nurani tetapi mana yang baik itu adalah menurut kehendak Allah atau menurut firman Tuhan sehingga seseorang akan mengetahui bahwa itu sesuatu yang baik. Contohnya adalah: Seseorang tidak akan bergaul dengan orang yang membencinya dan pasti memusuhinya, yang secara duniawi itu adalah hal yang baik. Seandainya orang itu memukulnya maka dia pasti akan membalasnya tetapo apabila seseorang berbuat baik kepadanya maka dia juga akan berbuat baik kepada orang itu.

          Saat seseorang mengerti akan firman Tuhan maka hati nuraninya yang lama berganti dengan hati nurani yang telah dibaharui dengan Roh Tuhan yang sudah ditanam dengan firman Tuhan. Jadi patokan apa yang baik menurut firman Tuhan adalah apa yang benar bukan lagi baik menurut kita tetapi apa yang benar menurut firman Tuhan dan itu menjadi baik bagi kita.

 

  • 3)    Yang Berkenan Kepada Allah.

          Setelah firman Tuhan dimengerti, mengetahui sesuatu yang benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan, maka akan berkenan dihadapan Tuhan saat itu dilakukan. Contoh: seseorang membuat anda menjadi rugi tetapi anda memilih untuk mengampuninya dan suatu saat kemudian usaha orang tersebut hancur anda justru memilih untuk menolongnya. Saat anda melakukan itu, itulah yang berkenan dihadapan Tuhan karena saat anda berada di posisi untuk bisa membalasnya, anda justru memilih untuk menolongnya.

 

  • 4)    Dan Yang Sempurna.

          Yang sempurna adalah ketepatan, perubahan yang semakin sempurna hari demi hari, bertumbuh didalam kehendak Tuhan. Dalam roh kita, yang mungkin dulunya hanya berupa tindakan diluar tetapi sewaktu kita semakin disempurnakan maka sedikit saja hati kita merasa terganggu, mungkin kita belum membenci seseorang tetapi hati sudah mulai jengkel dan kehilangan damai sejahtera maka kita akan mengetahui bahwa kita telah berbuat dosa.

          Mengalami pembaharuan budi artinya hidup seseorang dibudayakan oleh firman Tuhan, prinsip Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga sudah turun ke bumi ini. Seperti Doa Tuhan Yesus “Jadilah kehendak-Mu di Bumi seperti di Sorga”. Yang membawa Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga terjadi di bumi ini adalah saat setiap kita melakukan dan menghidupi firman Tuhan, saat cara hidup setiap kita adalah budaya Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga/Kristus sehingga saat itu bukan hanya keselamatan yang terjadi tetapi mengubah dunia ini menjadi atmosfir atau suasana Kerajaan Sorga yang dahulunya dikuasai oleh iblis, dosa dan maut kemudian berubah karena kita memberikan budaya Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga/Kristus didunia ini.

 

(Filipi 2:5 TB)

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”

 

          Sewaktu kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus atau sewaktu pikiran dan perasaan Kristus yang memerintah atas hidup kita, itu sesuatu yang luar biasa karena kita menjadi berkat bagi banyak orang dan itu akan membuat kita progress, mengalami pertumbuhan dan pengenalan akan Tuhan yang indah.

          Pelayanan yang terindah adalah saat kita menjadi berkat bagi banyak orang. Mungkin kita tidak diuntungkan secara materi , mungkin kita tidak diuntungkan secara manusia kita tetapi kita merasakan sebuah sukacita ketika orang lain merasakan kasih dan berkat Tuhan.

Jadi dalam setiap pelayanan dan dalam segala aspek kehidupan kita, mari membuat budaya Kerajaan Allah/kerajaan Sorga/Kristus itu masuk kedalam hidup kita.

 

 

 

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

Jurnalis: Untung Bongga Karua.

 

Jumat, 07 Agustus 2020

MEMASARKAN TUAIAN (berkat pelipatgandaan)

 

MEMASARKAN TUAIAN

(berkat pelipatgandaan)


Virtual meeting bersama Ps Joseph Hendrik Gomulya, M.Th





    Apabila membaca judul kotbah ini terdengar seperti judul dari sebuah seminar pemasaran hasil pertanian. Hari ini kita akan belajar bagaimana hasil tuaian itu bisa memiliki value sehingga terjadi pelipatgandaan. Setiap kita mengetahui bahwa seorang petani akan melewati beberapa tahapan-tahapan sampai memperoleh atau menuai hasil dari apa yang ditanam dan telah ditaburnya. Adapun tahapan-tahapan yang selama ini kita ketahui adalah sebagai berikut:

1)    BEKERJA mempersiapkan benih.
2)    BEKERJA mempersiapkan lahan.
3)    BEKERJA menabur benih.
4)    BEKERJA merawat dan memberi pupuk.
5)    BEKERJA menuai (panen).

 

“1) Maka timbullah kelaparan di negeri itu. -- Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin 2) Lalu Tuhan menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3) Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.” (Kejadian 26:2-3 TB)

“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.” (Kejadian 26:12 TB)

 

          Apabila seorang petani memiliki lahan seluas 1 hektar, kemudian dia mempersiapkan lahan tersebut yang kemudian ditaburi dengan benih gandum, dirawat dan diberi pupuk dan setiap panennya petani ini bisa menuai atau memanen sebanyak 5 ton gandum. Nah pada ayat diatas firman Tuhan berkata Ishak menabur di tanah yang kering dan kemudian menuai seratus kali lipat ditahun itu juga. Kita umpamakan petani ini adalah Ishak, apakah Ishak secara tiba-tiba akan menuai gandum sebesar 500 ton gandum karena menuai seratus kalo lipat? Rahasianya dimana? Ternyata masih ada satu proses lagi yang banyak orang atau petani yang tidak mengetahuinya, yaitu tahapan BEKERJA memasarkan tuaian tersebut.


          Kebanyakan penuai hanya fokus bagaimana menuai sebanyak-banyaknya tetapi tidak mengetahui bagaimana memasarkan dan menjual tuaian tersebut. Berbeda dengan Ishak yang mampu melihat peluang atau kesempatan sehingga dia mengetahui tahapan tersebut sehingga hasil yang didapatkannya seratus kali lipat. Kok bisa? Bagaimana caranya?


          Perlu diingat bahwa Ishak menabur benih pada saat masa kekeringan atau kelaparan sedang melanda, dia bekerja keras sedari awal mempersiapkan lahannya, menggali kembali sumur-sumur ayahnya, merawat benih-benih tersebut sampai masa tuaian itu tiba. Pada masa kekeringan atau kalaparan semua barang harganya pasti sangat mahal, dan gandum yang dimiliki oleh Ishak selain kualitasnya baik dia juga mampu memasarkan dan menjualnya dengan sangat baik. Jadi inilah rahasia bagaimana Ishak bisa menuai seratus kali lipat.


          Bagaimana penerapan konsep tersebut dalam pelayanan? Nah Saat-saat sulit seperti ini, saat seseorang melayani dan memperhatikan tuaian atau jiwa-jiwa yang dilayaninya dengan baik. Maka setiap jiwa-jiwa yang dituai akan bercerita kepada banyak orang tentang pelayanan yang diterimanya karena saat orang lain menjauh dan tidak memperhatikan mereka, orang ini justru melayani dan memperhatikan mereka. Kasih, pelayanan dan perhatian kepada jiwa-jiwa akan terlihat berbeda karena yang dibagikan adalah kasih Tuhan. Jadi pelipatgandaan tuian akan terjadi dengan sangat cepat di saat-saat seperti ini.

          Yang mesti setiap kita pelajari di saat-saat seperti ini adalah bagaimana memiliki respon yang cepat menangkap perubahan, menangkap setiap peluang atau kesempatan dan cepat menangkap apa yang Tuhan inginkan. Hanya orang-orang yang memiliki respon cepat menangkap apa isi hati Tuhan yang akan bisa bertahan dan berhasil dalam pelayanannya.


          Gereja sebenarnya adalah wadah atau tempat untuk melatih jiwa-jiwa atau jemaat. Melatih karakter dan melatih seseorang sampai dirinya dipercaya oleh Tuhan dalam banyak hal sampai berhasil dan hidupnya bisa berdampak sampai orang tersebut juga menjadi seorang penuai. Jadi gereja jangan hanya fokus kepada ibadah tetapi harus bisa melatih jiwa-jiwa atau jemaat melalui kotbah yang bisa mengubahkan karakter mereka, selalu ada pewahyuan firman Tuhan yang disingkapkan dan pengertian-pengertian baru yang diberikan.


          Kemajuan jemaat bergantung dari makanan rohani yang mereka terima. Kapasitas yang Tuhan berikan kepada anda bergantung daripada apakah kapasitas anda juga meningkat atau tidak? Apakah pola pikir anda meningkat atau tidak? Cara anda berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain apakah meningkat atau tidak? Karena hasil dari seseorang berjemaat terlihat dari dampak yang diterima oleh seseorang selama berjemaat. Nah inilah yag perlu di evaluasi oleh gereja, yang dalam dunia bisnis inilah yang disebut dengan memasarkan hasil tuaian.


          Jadi jangan sampai tuaian yang didapatkan tetapi kemudian tidak berbuat apa-apa. Jangan sampai jiwa-jiwa atau jemaat hanya datang beribadah setiap minggu, menjadi jemaat tetap, memberi persembahan dan perpuluhan tanpa pernah melatih mereka. Setiap jiwa-jiwa atau jemaat harus bisa dimuridkan atau dibapai sebagai bekal atau persiapan bagi mereka juga untuk melayani Tuhan, menjadi penuai di ladang Tuhan dan untuk mereka bisa berhasil di tengah masyarakat sehingga itu harus dilakukan terus-menerus.


          Tetapi sayangnya banyak gereja Tuhan yang terjebak dalam konsep agamawi dengan hanya memberi ruang dan kesempatan orang datang beribadah dan tidak berbuat apa-apa karena pengajaran dan sikap sehari-harinya memang sudah seperti itu, bahwa yang melayani hanyalah gembala dan orang-orang tertentu atau pilihan. Padahal semua orang yang sudah percaya, itu sudah dipilih Tuhan berbeda dengan konsep Perjanjian Lama.

 

“Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Lukas 10:2 TB

 

          Tanggung jawab gereja adalah bagaimana menghasilkan penuai-penuai dengan memberi mereka kesempatan dan ruang. Nah dalam komsel, itulah tempat pelatihannya. Di situ mereka belajar bagaimana memberikan kesaksian, belajar bagaimana memimpin pujian, belajar bermain musik, belajar bagaimana sharing atau membagikan firman Tuhan, tempat dimana benih kasih itu ditanamkan dan tempat dimana mereka bisa saling mengasihi dan memperhatikan satu sama lainnya sampai kemudian mereka juga bisa merangkul orang lain. Melalui komsel inilah hasil tuian tersebut mempunyai value dan kualitasnya semakin meningkat. Itulah rahasia bagaimana tuaian bisa dituai seratus kali lipat dengan cepat.


          Jadi tuaian itu adalah jiwa-jiwa, seberapa berharga jiwa-jiwa tersebut bergantung dari bagaimana mereka dilatih dan dipersiapkan sebelumnya sampai kualitas yang mereka miliki semakin meningkat. Memaksimalkan potensi yang mereka miliki dan membawa mereka kepada destiny Tuhan atau membantu mereka menemukan destiny mereka maka mereka akan mengejar hal itu.


          Melatih jiwa-jiwa atau jemaat akan membuat kualitas tuaian terus menjadi semakin bernilai dari waktu ke waktu sampai mereka juga menjadi penuai dan memuridkan yang lain. Mari setiap kita menginvest waktu dan tenaga untuk melatih dan memberikan mereka arahan. Hari-hari ini adalah peluang atau kesempatan untuk memenangkan banyak jiwa-jiwa dengan bergerak dan juga memotivasi orang lain untuk juga bergerak bersama-sama.

 

 

Amin, Tuhan Yesus Memberkati.

Jurnalis: Untung Bongga Karua





Kamis, 06 Agustus 2020

BEKERJA DAN MENUAI

BEKERJA DAN MENUAI


 Dari virtual meeting bersama Ps Joseph Hendrik Gomulya, M.Th



“Demikianlah Rut tetap dekat pada pengerja-pengerja perempuan Boas untuk memungut, sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum telah berakhir. Dan selama itu ia tinggal pada mertuanya.” (Rut 2:23 TB)

 

 

          Saat mengetahui dan mengerti bahwa ini adalah musim untuk menuai maka setiap kita harus mengerjakan tuaian itu. Seorang petani yang mengetahui saat musim tuaian itu datang, maka itu dia akan mengetahui bahwa tibalah waktu banginya untuk bekerja lebih lagi.

 

          Saat mengetahui bahwa ini adalah musim untuk menuai maka seharusnya stiap kita tidak hanya melihatnya saja atau musim tuaian itu hanya sekedar informasi dan kemudian berlalu begitu saja. Itu harus dikerjakan karena tuaian yang tidak dikerjakan itu tidak akan menjadi benar-benar menjadi sebuah tuain karena tuaian tersebut tidak bisa dinikmati hasilnya atau tidak ada value dari tuain tersebut. Sangat banyak orang yang ingin menuai tetapi tidak mau untuk mengerjakannya dan hal ini adalah sesuatu yang sangat disayangkan.

 

          Apabila dalam diri setiap kita sudah tertanam bahwa saat ini adalah musim untuk menuai, apabila konsep pemikiran setiap kita benar dan cara melihatnya benar maka setiap kita akan menikmati sungguh-sungguh tuaian tersebut karena ada value dari setiap tuaian yang dikerjakan.

 

          Jangan mengikuti pandangan atau pemikiran dunia yang mengatakan bahwa hari-hari ini adalah masa-masa yang sulit dan kemudian tidak melakukan apa-apa maka yang terjadi adalah tidak ada sesuatu yang bisa dihasilkan. Seperti yang banyak terjadi hari-hari ini, saat orang harus lebih banyak tinggal di rumah tetapi tidak melakukan apa pun dan hanya merenungi nasib. Maka saat masa sulit berlalu tidak akan mendapatkan apa-apa malah kecenderungan yang terjadi adalah kemalasan, orang-orang akan menjadi apatis atau berputus asa.

 

          Di masa sulit seperti saat ini gereja dan setiap orang percaya jangan mau terjebak dalam opini bahwa saat ini adalah masa yang sulit dan kemudian masuk dan didalamnya. Gereja dan setiap kita orang percaya mari menguatkan iman dan kemudian mulai melihat setiap kesempatan atau peluang bahwa hari-hari ini adalah masa untuk menuai.

 

          Saat memiliki konsep bahwa saat ini adalah masa untuk menuai maka pasti setiap kita mau bekerja dan kemudian bisa melihat setiap kesempatan atau peluang. Bukan alasan yang membuat setiap kita kemudian tidak bisa menuai karena alasan itu akan selalu ada. Gereja dan setiap kita orang percaya ada justru untuk menjawab alasan itu.

 

          Seorang penuai adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter yang mau mengerjakan setiap tuaian sampai tuian tersebut menghasilkan atau memiliki value. Contohnya adalah Ishak yang menabur pada masa sulit atau masa kekeringan dan kemudian mengerjakan tuaiannya maka dia menuai 100 kali ganda.

 

          Saat setiap kita menabur atau meletakkan hidup untuk menuai bangsa ini seperti perkataan Alm Pdt Petrus Agung Purnomo yang selalu dikatannya dalam setiap kotbahnya “secara rohani apabila kita mengerjakan tuaian atas seluruh Indonesia maka berkat rohani atas bangsa ini juga akan turun atas setiap kita. Dan apabila itu sungguh-sungguh dikerjakan maka sangat banyak jiwa-jiwa yang akan bisa dituai atas bangsa ini dan berkat jasmani juga akan mengikuti. Inilah yang kemudian mengubah konsep pemikiran bisnis Pdt Joseph Hendrik Gomulya yang Tuhan percayakan untuk menjadi pengusaha dan mengelola beberapa bisnis, yang awalnya hanya berkonsep hanya di Makassar saja tetapi bisa dikembangkan untuk terbuka di seluruh Indonesia. Apabila konsep pelayanan setiap kita ingin menjadi berkat sampai seluruh Indonesia maka berkat itu akan turun kesana, jangan pernah mengecilan setiap rencana Tuhan.

 

          Tuhan akan selalu memberikan kepercayaan kepada setiap kita. Setiap orang diberikan-Nya keunikan dan minimal memiliki satu talenta. Apabila satu talenta yang diberikan itu bisa dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka Tuhan akan memberikan satu talenta atau kepercayaan yang lainnya lagi. Apabila itu juga bisa dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka Tuhan akan memberikan 4, 5 dan mungkin sampai 10 talenta dan apabila ke-10 talenta atau kepercayaan Tuhan tersebut bisa dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka apabila seseorang tidak mau mengerjakan apa yang dimilikinya, maka itu akan diberikan kepada anda.

 

“sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum.”

 

          Boas menyuruh para pengerjanya untuk menuai 2 hal, yaitu menuai gandum dan juga menuai jelai. Tujuan utamanya adalah menuai gandum tetapi penuai akan menuai jelainya juga karena itu ada harganya sebagai makanan ternak dan banyak kegunaan lainnya. Saat setiap kita mau mengerjakan tuaian dengan sungguh-sungguh, Tuhan bukan hanya melipatgandakan hasilnya tetapi Dia juga akan memberikan tambahan atau bonus.

 

          Dalam setiap pelayanan pasti selalu ada tantangannya dan disinilah seorang pemimpin harus bisa memberikan solusi untuk tantangan. Mari menuai gandum dan jelai, menuai jiwa-jiwa yang banyak dengan kasih karunia Tuhan.



Amen, Tuhan Yesus Memberkati.

Jurnalis: Untung Bongga Karua

Kamis, 30 Juli 2020

THE SPIRIT OF WISDOM: KONSEPKAN DAN LAKUKANLAH

THE SPIRIT OF WISDOM: KONSEPKAN DAN LAKUKANLAH




Dari Kotbah Ps Joseph Hendrik Gomulya, M.Th

 

 

“Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13)

 

          Sangat banyak banyak orang bahkan mungkin kita sendiri sering mengalaminya, memiliki segudang ide-ide yang tersimpan atau terkonsep dalam pikiran kita baik itu dalam pekerjaan, bisnis, politik, karir bahkan dalam pelayanan yang mungkin apabila semua konsep atau ide-ide tersebut dapat direalisasikan mungkin akan menghasilkan sesuatu karya atau hal yang sangat luar biasa.

          Yang menyedihkan adalah sangat sedikit orang yang bisa atau mau merealisasikan segudang ide-ide yang terkonsep dalam pikirannya itu dapat terlaksana atau tergenapi dengan baik padahal semua ide-ide tersebut sangat menarik. Penyebabnya adalah karena mereka menunda-nunda melakukan semua ide-ide tersebut atau tidak segera melaksanakannya sampai kemudian iblis memanahkan panah-panah jahatnya yang kemudian mematahkan semangat sampai kemudian keluar berbagai macam alasan yang mungkin kedengarannya masuk akal untuk tidak melakukannya sampai kemudian semua ide-ide tersebut akhirnya mati dengan sendirinya.

          Menunda melakukan sesuatu atau menunda melakukan kehendak Allah melalui ide-ide yang diberikannya akan menyebabkan penyesalan seumur hidup. Kesuksesan itu datang saat kita melakukannya, yang terwujud dari tindakan yang kita lakukan tidak hanya dari melihat. Sangat banyak orang-orang yang memiliki ide-ide yang bagus dan hebat yang membuat orang terkagum-kagum ketika mendengarkannya tetapi mereka tidak pernah mau bertindak, melakukan atau merealisasikan semua ide-ide yang bagus dan hebat itu.

          Spirit of Wisdom atau Roh hikmat kebijaksanaan diberikan agar setiap kita mengetahu apa rencana Allah dalam hidup kita dalam menghadapi dan melalui setiap masalah, tekanan dan tantangan dalam kehidupan. Ada 3 kata hikmat dalam bahasa Yunani yaitu Sophia, Sunesis dan Phronesis yang akan kita bahas satu persatu.

a)     SOPHIA : berbicara tentang hikmat yang teoritis dan pengetahuan. artinya pemahaman yang secara kolektif tentang segala sesuatu. Saat seseorang sedang dan suka berteori, memiliki pengetahuan yang baik dan luas, dan mempunyai pemahaman yang kolektif tentang segala sesuatu, itulah hikmat Sophia.

b)    SUNESIS : kata hikmat yang kedua ini adalah hikmat untuk mengkritisi yang bersifat pengetahuan dalam hal mental dan analistis. Jenis hikmat ini adalah kemampuan untuk memahami antara konsep dan kemampuan untuk melihat satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan, memiliki pengetahuan mental dan analisis yang kuat, memiliki konsep dan memadukannya sehingga bisa melihat keterkaitan satu dengan yang lainnya. Sunesis juga adalah Sophia yang diarahkan pada hal tertentu. Sunesis membuat kita mengetahui bagaimana Sophia bekerja. Ini adalah pemahaman yang lebih lengkap tentang suatu hal dan cara kerjanya.

c)     PHRONESIS : adalah level hikmat yang paling tinggi dan Tuhan ingin setiap kita anak-anak-Nya bisa sampai pada level ini. Ini adalah hikmat praktis, suatu kekuatan yang membuat seseorang bisa melakukan dan memperkatakan atau mengambil sebuah keputusan yang benar sebelum sempat memikirkannya. Hikmat ini muncul secara tiba-tiba, ada kekuatan yang mendorong seseorang untuk memperkatakan dan kemudian melakukan sesuatu atau mengambil sebuah keputusan.

 

          Diawal sudah dijelaskan bahwa sangat banyak orang yang hanya bisa mengkonsep sesuatu tetapi tidak mau bertindak untuk merealisasikannya. Inilah alasan mengapa orang kemudian tidak bisa mengalami kesuksesan, sekalipun dia memiliki segudang ide dan konsep, memiliki sikap kritis, mempunyai kemampuan analisis yang kuat sehingga bisa menghubungkan satu dengan yang lain tetapi tidak mau bertindak atau dia melakukannya dengan terburu-buru tanpa konsep atau perencanaan yang matang di awal.

          Contoh sederhananya adalah bagaimana mengelola keuangan, setiap pemasukan keuangan itu perlu konsep pengelolaannya. Jangan setiap uang yang masuk atau diterima langsung digunakan sesuai dengan apa yang diingini. Harusnya penggunaan uang tersebut bisa di konsep penggunaannya atau dengan kata lain penggunaannya dialokasikan buat keperluan yang mendesak dan sebagian disimpan sebagai tabungan atau investasi. Tetapi banyak orang yang tidak mau mengkonsep dan mengelolanya apalagi apabila pemasukannya semakin lancar dan banyak dan karena tidak melakukan seperti yang dijelaskan diatas maka tetap saja selalu berkekurangan, melakukan sesuai dengan apa yang diingininya sehingga tidak pernah sukses dalam mengelola keuangan. Dalam pelayananpun seharusnya bisa seperti itu.

 

“Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

 

          Tuhan efektif bekerja didalam kita, Dia menguatkan dan selalu memacu kita. Jadi Tuhan tidak hanya ingin kita berpikir tentang apa yang perlu dilakukan tetapi Dia juga ingin agar kita benar-benar melakukannya atau merealisasikannya. Apabila seseorang tidak pernah bisa melatih dirinya untuk melakukan semua ide-ide dan konsep yang ada dalam pikirannya maka semua impian dan ide-idenya tidak akan pernah terwujud karena hanya sebatas konsep dan kemudian hanya menjadi sebuah angan-angan. Jadi memiliki ide-ide dan kemudian melakukannya adalah 2 hal yang sangat penting karena saat ide-ide tersebut dilakukan, direalisasikan dan diaplikasikan maka akan terlihat sesuatu yang berbeda terjadi.

          Roh Kudus akan selalu menyertai dalam mengerjakan tujuan Tuhan dan impian kita, oleh sebab itu mari betul-betul memahami kata phronesis ini. Ini adalah hikmat melakukan kehendak Tuhan, melakukan apa yang sudah Tuhan taruh dalam hidup kita. Tuhan menempatkan Sophia ke dalam diri kita, mengembangkan kita dengan Sunesis dan menyempurnakan kita dengan Phronesis. Tiga tingkat Kebijaksanaan inilah yang dilalui oleh Roh Hikmat Kebijaksanaan. Sebelum Sophia diaplikasikan dalam Phronesis, maka kita tidak bisa menikmati manfaatnya.

          Mari belajar dari salah satu contoh tokoh dalam Alkitab yang memiliki hikmat yang sangat luar biasa, yaitu Yusuf yang hikmat yang dimilikinya sampai kepada tingkat Phronesis.

 

38) “Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” 39) Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. 40) Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu.” 41) Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.” 42) Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya. 43) Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: “Hormat!” Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir. 44) Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorang pun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir.” 45) Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi isterinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.”      (Kejadian 41:38-45 TB)

          Yusuf dalam dirinya memiliki Roh hikmat kebijaksanaan yang luar biasa, dia bukan hanya sekedar berteori saja saat mengartikan mimpi dari Firaun. Dia memiliki kemampuan bukan hanya bisa memecahkan masalah yang akan timbul dari mimpi Firaun tersebut tetapi juga bisa melaksanakan dan mengaplikasikan solusi atau jalan keluar dari masalah yang akan timbul tersebut, sehingga itulah sebabnya kemudian mengapa Firaun berani memberi dia kuasa atas Mesir dan istananya, dengan kata lain Yusuf menjadi orang nomor dua di Mesir setelah Firaun.

          Dengan Roh hikmat kebijaksanaan (level Phronesis) Yusuf mampu menyiapkan segala kebutuhan sandang dan pangan saat Mesir dan dunia saat itu mengalami 7 tahun kekeringan dengan mempersiapkan segala sesuatunya dalam 7 tahun kelimpahan sebelum musim kekeringan itu tiba dengan menyimpan semua bahan pangan.

          Dalam kehidupan ini memang tidak selalu ada masa yang baik, terkadang ada masa sulit yang harus dijalani. Sehingga dari situlah muncul konsep atau ide bagaimana mengelola keuangan dengan benar dan di era teknologi saat ini semuanya sudah dipermudah dengan hanya tinggal mengklik sebuah kata kunci tentang bagaimana mengelola keuangan dengan benar maka akan muncul ribuan link bagaimana mengelola keuangan dengan benar. Tetapi semuanya itu hanya teori dan terkadang hanya sampai dipikiran manusia tanpa ada usaha untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelumnya dan menjalankan konsep tersebut.

          Mari belajar bagaimana cara Yusuf mengelola bahan pangan dan keuangan di Mesir karena di sekeliling Yusuf selain ada istri dan anak-anaknya, juga pasti ada pegawai dan orang-orang kepercayaannya yang selalu bekerja dan menemaninya yang bisa membuat Yusuf tidak bisa mengelola itu dan menghabiskan semua bahan pangan sebelum masa kekeringan tiba. Tetapi Yusuf mampu mengaturnya sehingga saat masa kekeringan itu tiba mereka tetap memiliki pangan dan sumber makanan bahkan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain.

          Saat membaca dan merenungkan kisah Yusuf ini, saya membayangkan tekanan yang dialami oleh Yusuf saat dia mengatur dan mengelola pertanian di Mesir. Yusuf sampai mampu membeli tanah dari seseorang dengan harga yang murah dan kemudian menyuruh orang tersebut mengolahnya dan hasilnya semuanya diserahkan kepada Yusuf untuk disimpan dan dikelola dengan baik sebagai persiapan nanti di 7 tahun masa kekeringan. Yusuf mampu dengan tepat mengatur semuanya sesuai dengan fungsinya sehingga sasaran pangan tersebut didapatkan. Dalam proses pengelolaannya saya yakin Yusuf mendapatkan tekanan berupa penawaran dengan harga yang sangat tinggi untuk Yusuf menjualnya saat itu, tetapi Yusuf belum mau melakukannya karena tujuannya bukan uang.

          Ada banyak orang memiliki hikmat Sophia, berupa ide-ide dan konsep yang bagus, memiliki hikmat Sunesis atau kemampuan menganalisa sesuatu dan menghubungkan sesuatu dengan yang lain serta memiliki sifat kritis tetapi keduanya ternyata tidak cukup. Dibutuhkan hikmat pada tingkat Phronesis yaitu orang yang memiliki hikmat berupa rencana yang matang dan juga seorang executor yang handal seperti Yusuf. Apabila kita membaca literatur dan buku-buku yang membahas tentang betapa luar biasanya hikmat yang dimiliki oleh Yusuf, disitu dijelaskan bagaimana Yusuf mengeksekusi satu persatu ide-ide atau konsep yang dibuatnya.

          Semua hal yang dikerjakan haruslah dalam wujud Phronesis ini dalam melihat dan meraih sebuah kesuksesan atau keberhasilan. Semoga renungan ini bisa membuka mata setiap kita, mengetahui dimana kelemahan kita selama ini bahwa ternyata kita belum sampai ke tingkat Phronesis ini, mungkin kita baru sampai pada tingkat Sophia hanya memiliki pengetahuan yang luas. Pakar keuangan atau Ekonomi memiliki pengetahuan dan teori yang luas dalam hal keuangan tetapi belum tentu dia memiliki keuangan yang baik karena pengetahuannya hanya sebatas teori. Para ahli teologia pun bisa seperti itu, mereka bisa berteologia tentang firman dengan sangat baik tetapi belum tentu dia bisa melakukan semua firman itu dengan tepat didalam pelayanan.

          Tingkatan berikutnya yaitu Sunesis, yang bisa kita jumpai di tengah-tengah masyarakat baik dalam bisnis, politik, pekerjaan, pelayanan dan lain sebagainya. Jenis orang yang memiliki hikmat ini sangat pandai dalam mengkritisi segala sesuatu tetapi hanya sebatas itu tetapi saat diminta untuk melakukannya atau ketika diminta untuk turun dalam pelayanan tidak bersedia dan orang jenis ini tidak akan pernah bisa dipakai oleh Tuhan karena hanya mampu sebatas teori dan tidak pernah mau melakukannya. Sangat jauh berbeda dengan orang yang sampai pada tingkat Phronesis.

          Mari setiap kita menangkap akan firman ini dalam segala hal. Mari mulai melihat bagian mana dalam hidup setiap kita yang mesti dibenahi agar supaya kesuksesan dan keberhasilan dan hikmat sampai pada tingkat Phronesis itu turun atas setiap kita. Bukan hanya pandai sebatas untuk berbicara, bukan hanya pandai untuk mengkritisi, bukan hanya pandai sebatas untuk mengkonsep dan mengabungkan keterkaitan satu dengan yang lain tetapi menjadi seorang executor yang mau melakukan dengan tepat dan tabah dalam menghadapi setiap tekanan dan tantangan yang ada sampai tujuan yang telah dikonsep atau dirancangnya berhasil atau tercapai.

 

Amen, Tuhan Yesus Memberkati

Jurnalis: Untung Bongga Karua

Rabu, 29 Juli 2020

PEMULIHAN SEGALA SESUATU MELALUI FIRMANNYA (DENGAN KEKUATAN ROH)

PEMULIHAN SEGALA SESUATU MELALUI FIRMANNYA

(DENGAN KEKUATAN ROH)

 

Dari kotbah Ps Joseph Hendrik Gomulya, M.Th

 



          Masa pandemik yang saat ini sedang melanda Indonesia bahkan seluruh dunia adalah seolah-olah dunia ini sedang di restart kembali. Gereja Tuhan dan setiap orang percaya sedang dipulihkan agar setiap orang yang ada di bumi ini hatinya kembali tertuju kepada Tuhan. Manusia mulai menyadari bahwa ada campur tangan Tuhan dalam segala sesuatu yang menjadi pengendali. Ketika hati manusia kembali kepada Tuhan maka mereka akan melihat pemulihan terjadi atas segala sesuatu.

“Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh.”

(1 Korintus 2:4 TB)

 

          Rasul Paulus mengatakan bahwa dirinya memberitakan firman Tuhan bukan hanya memakai kata-kata hikmat tetapi dengan kekuatan roh. Sewaktu firman Tuhan disampaikan dengan kekuatan roh, itu akan mengubah keadaan, mengubah kehidupan seseorang bahkan bisa memulihkan keadaan satu bangsa.

 

          Pemulihan terhadap satu bangsa pernah dialami oleh bangsa Israel. Saat itu bangsa Israel mengalami kelaparan yang sangat hebat dimana-mana, barang-barang menjadi sangat mahal dan sangat sulit untuk mendapatkan bahan makanan. Tetapi firman Tuhan yang disampaikan dengan kekuatan roh melalui nabi-Nya (Elisa) sanggup mengubah keadaan hanya dalam 1 hari.

 

“24) Sesudah itu Benhadad, raja Aram, menghimpunkan seluruh tentaranya, lalu maju mengepung Samaria. 25) Maka terjadilah kelaparan hebat di Samaria selama mereka mengepungnya, sehingga sebuah kepala keledai berharga delapan puluh syikal perak dan seperempat kab tahi merpati berharga lima syikal perak. 26) Suatu kali ketika raja Israel berjalan di atas tembok, datanglah seorang perempuan mengadukan halnya kepada raja, sambil berseru: “Tolonglah, ya tuanku raja!” 27) Jawabnya: “Jika Tuhan tidak menolong engkau, dengan apakah aku dapat menolong engkau? Dengan hasil pengirikankah atau hasil pemerasan anggur?” 28) Kemudian bertanyalah raja kepadanya: “Ada apa?” Jawab perempuan itu: “Perempuan ini berkata kepadaku: Berilah anakmu laki-laki, supaya kita makan dia pada hari ini, dan besok akan kita makan anakku laki-laki. 29) Jadi kami memasak anakku dan memakan dia. Tetapi ketika aku berkata kepadanya pada hari berikutnya: Berilah anakmu, supaya kita makan dia, maka perempuan ini menyembunyikan anaknya.” 30) Tatkala raja mendengar perkataan perempuan itu, dikoyakkannyalah pakaiannya; dan sedang ia berjalan di atas tembok, kelihatanlah kepada orang banyak, bahwa ia memakai kain kabung pada kulit tubuhnya. 31) Lalu berkatalah raja: “Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih dari pada itu, jika masih tinggal kepala Elisa bin Safat di atas tubuhnya pada hari ini.”

(1 Raja-raja 6:24-31 TB)

 

          Saking hebatnya kelaparan yang dialami oleh bangsa Israel saat itu, selain harga barang-barang yang menjadi begitu sangat mahal dan sangat sulitnya untuk mendapatkan makanan sehingga mereka harus memakan sesuatu yang dalam keseharian itu bukanlah makanan yang biasa mereka konsumsi. Mereka harus memakan kepala dari keledai yang sebenarnya diternakkan bukan untuk dikonsumsi dagingnya tetapi sebagai alat transportasi selain unta pada jaman itu tetapi itu kemudian harus disembelih dan dijadikan makanan bahkan kepala dari keledai ini pun ikut di konsumsi sebagai makanan dan dihargai sangat mahal sekitar 80 Syikal perak bahkan tai dari burung merpati pun ikut dikonsumsi, yang dihargai 5 Syikal perak seperempat dari tai burung merpati tersebut.

          Dan yang paling memiluhkan hati dari kelaparan hebat yang melanda bangsa Israel saat itu adalah mereka menjadi kanibalisme atau mereka memakan daging manusia. Alkitab dengan jelas menceritakan mereka memakan daging anak-anak mereka. Diceritakan tentang seorang ibu yang mencurahkan atau menceritakan isi hatinya karena tidak tega menyerahkan anaknya untuk dimakan dan ketika ini disampaikan kepada raja, itu sangat memiluhkan hati raja Israel sehingga membuat raja harus mengoyakkan jubahnya dan memakai kain berkabung.

          Pada saat itu bangsa Israel sedang berada dalam peperangan dengan bangsa Aram dan sampai kemudian mereka harus terdesak dan terkepung dalam kota Samaria saat itu. Seluruh harta kekayaan mereka berupa ternak, makanan dan segala perhiasan dijarah oleh bangsa Aram sehingga dalam keadaan yang terkepung itu mereka dilanda kelaparan yang sangat dahsyat dan mereka tidak bisa keluar dari dalam kota.

 

“32) Adapun Elisa, duduk-duduk di rumahnya, dan para tua-tua duduk bersama-sama dia. Raja menyuruh seorang berjalan mendahuluinya, tetapi sebelum suruhan itu sampai kepada Elisa, Elisa sudah berkata kepada para tua-tua itu: “Tahukah kamu, bahwa si pembunuh itu menyuruh orang untuk memenggal kepalaku? Awas-awaslah, apabila suruhan itu datang, segeralah tutup pintu dan tahanlah dia supaya orang itu jangan masuk. Bukankah sudah kedengaran bunyi langkah tuannya di belakangnya?” 33) Selagi ia berbicara dengan mereka, datanglah raja mendapatkan dia. Berkatalah raja kepadanya: “Sesungguhnya, malapetaka ini adalah dari pada Tuhan. Mengapakah aku berharap kepada Tuhan lagi?” (1 Raja-raja 6:32-33 TB)

 

          Pada saat kelaparan hebat sedang melanda, teringatlah raja Israel bahwa ada seorang nabi Tuhan di tengah-tengah bangsanya, yaitu Elisa. Dan raja pun memutuskan untuk datang kepadanya tetapi dengan keadaan yang sedang marah. Ungkapan kemarahan raja Israel ini adalah ungkapan kekecewaan dan kemarahannya kepada Tuhan dengan keadaan yang sedang menimpa bangsanya. “Sesungguhnya, malapetaka ini adalah dari pada Tuhan. Mengapakah aku berharap kepada Tuhan lagi?”

 

          Malapetaka sebenarnya bukan dari Tuhan, itu terjadi karena kesalahan manusia sendiri tetapi diijinkan oleh Tuhan untuk terjadi. Tuhan itu baik dan tidak mungkin mengeluarkan sesuatu yang tidak baik. Pengenalan seseorang akan Tuhan yang sangat dangkal itulah yang membuat orang sering salah mengerti dengan Tuhan dan kemudian menganggap bahwa malapetaka itu dari Tuhan dan kemudian menimbulkan kekecewaan dan kemarahan serta tidak percaya lagi kepada Tuhan seperti yang dialami oleh raja Israel yang dari mulutnya keluar perkataan “mengapakah aku berharap kepada Tuhan lagi?”

 

          Ini adalah salah satu contoh panah yang dilepaskan oleh iblis agar seseorang menjadi marah dan kecewa kepada Tuhan. Tetapi syukurnya raja ini datang ke tempat yang sangat tepat yaitu kepada Elisa yang adalah seorang nabi atau hamba Tuhan.

 

Apa yang dikatakan Elisa setelah itu?

 

“1) Lalu berkatalah Elisa: “Dengarlah firman Tuhan. Beginilah firman Tuhan: Besok kira-kira waktu ini sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria.” 2) Tetapi perwira, yang menjadi ajudan raja, menjawab abdi Allah, katanya: “Sekalipun Tuhan membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?” Jawab abdi Allah: “Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya.” (1 Raja-raja 7:1-2 TB)

 

          Hari-hari ini jangan pernah mendengarkan perkataan orang yang negatif tetapi isilah hidup anda dengan mendengarkan setiap perkataan Tuhan melalui firman-Nya seperti perkataan Rasul paulus dalam 1 Korintus 2:4 diatas tadi.

          Hari itu Elisa berkata kepada raja Israel untuk mendengarkan perkataan firman Tuhan,  yang diucapkannya dengan kekuatan roh. Yang saat diucapkan itu adalah nubuatan atas apa yang akan terjadi kedepannya yang Tuhan sampaikan melalui perantaraan Elisa sebagai seorang nabi yang telah Tuhan urapi. Nubuatan yang disampaikan oleh Elisa tersebut pasti membuat raja Israel itu shock atau kaget saat mendengarnya, apabila kita memposisikan diri kita sebagai raja bangsa Israel yang sedang gundah, kecewa dan marah kepada Tuhan atas kelaparan hebat yang sedang terjadi dan kemudian ketika mendengarkan perkataan atau nubuatan tersebut bahwa besok segala sesuatunya akan kembali normal. Sesuatu yang sepertinya mustahil atau tidak akan mungkin bisa terjadi. Inilah kenapa kita harus selalu bisa percaya dan memegang setiap perkataan Tuhan lebih dari apapun.

 

“Tetapi perwira, yang menjadi ajudan raja, menjawab abdi Allah, katanya: “Sekalipun Tuhan membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?” Jawab abdi Allah: “Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya.”

 

          Ada 2 jenis orang yang menanggapi setiap perkataan firman Tuhan, pertama adalah orang yang percaya dan menanggapi setiap perkataan firman Tuhan, dan yang kedua adalah orang yang selalu tidak pernah percaya akan mujizat yang Tuhan bisa lakukan. Orang ini selalu pesimis dan selalu berkata itu mustahil atau tidak mungkin akan terjadi walaupun orang tersebut memiliki jabatan dan latar pendidikan yang bagus. Jadi dalam segala hal percayalah selalu kepada Tuhan lebih dari kekuatan, kemamapuan dan pikiranmu. Karena Dia adalah Tuhan yang menciptakan seluruh jagat semesta ini, tidak ada sesuatu yang mustahil ketika Tuhan sudah berkehendak.

 

Kemudian apa yang dikatakan oleh Elisa kepada perwira yang tidak percaya itu dan apa yang akan terjadi kepadanya?

 

Jawab abdi Allah: “Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya.”

 

          Apabila kita membaca keseluruhan dari pasal ini sampai ayat 20 maka seperti yang telah dinubuatkan oleh Elisa bahwa oleh karena ketidakpercayaannya maka perwira tersebut hanya akan bisa menyaksikan pemulihan dan kelimpahan yang Tuhan berikan tanpa dia bisa menikmatinya.

          Nubuatan akan pemulihan segala sesuatu hanya dalam satu hari seperti yang dikatakan oleh Elisa benar-benar terjadi, sesuatu yang awalnya dianggap sebagai suatu kemustahilan oleh perwira tersebut. Diceritakan bahwa pada waktu senja saat hari mulai gelap Tuhan telah memperdengarkan kepada bangsa Aram bunyi kereta, bunyi kuda, bunyi tentara yang besar sehingga bangsa Aram mengira bahwa raja bangsa Israel telah mengupah raja-raja orang Het dan raja-raja orang Misraim melawan mereka sehingga kemudian mereka lari meninggalkan kemah, kuda, keledai mereka dan tempat perkemahan yang berisi makanan dan segala harta benda yang mereka miliki berupa emas dan perak dan pakaian dan ketika berita tersebut disampaikan kepada raja maka keluarlah penduduk kota untuk menjarah tempat perkemahan orang Aram sehingga terjadilah seperti perkataan firman Tuhan bahwa besok sesukat tepung yang terbaik berharga sesyikal dan dua sukat jelai berharga sesyikal.

          Perwira tersebut seperti yang dinubuatkan hanya bisa melihat kelimpahan itu terjadi tetapi tidak bisa menikmatinya karena dia mati didepan pintu gerbang akibat didorong dan di injak-injak oleh  rakyat yang keluar untuk menjarah tempat perkemahan orang Aram.

          Pelajaran yang dapat diambil dari kisah dalam firman Tuhan ini adalah jangan pernah membuat hati anda tidak percaya pada setiap perkataan Tuhan karena hati yang tidak percaya membuat anda tidak bisa menikmati apa-apa. Mari menjadi orang yang selalu percaya kepada setiap perkataan Tuhan. Mari menjadi Elisa yang selalu percaya kepada perkataan Tuhan, menjadi percaya seperti raja Israel yang sekalipun awalnya tidak percaya, bahkan sebelumnya marah, kecewa dan mempersalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang terjadi tetapi kemudian bertobat dan bisa melihat bangsanya dipulihkan oleh Tuhan.

Mari datang dan minta ampun kepada Tuhan apabila selama ini anda mungkin tidak pernah percaya pada perkataan firman Tuhan dan biarlah Tuhan memulihkan hati anda sehingga firman Tuhan dan kuasa-nya terjadi dalam kehidupan anda.

 

 

 

 

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

Jurnalis: Untung Bongga Karua

 





MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama)

  MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama) Sabtu, 04 Februari 2023 Ps Joseph Hendrik Gomulya           Sejak awal manusia diciptakan Allah ...