Sabtu, 06 Juli 2019

GENERASI ANAK BUNGSU




Ps Joseph Hendrik Gomulya





                                                Courtesy: Bahtera Media Network




S
elama ini kita selalu berbicara bagaimana menghasilkan sebuah generasi tetapi kita tidak sungguh-sungguh merelakan atau menginvestasi sesuatu buat sebuah generasi. Padahal kita harus benar-benar bisa peduli kepada generasi untuk menghasilkan generasi berikutnya sampai mereka benar-benar berhasil dan hidup mereka dipakai Tuhan. Generasi demi generasi itu penting karena akan menghasilkan generasi berikutnya sampai kita melihat generasi demi generasi itu diselamatkan.

“Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.””
(Lukas 15:11-32)


Di gereja atau di rumah Bapa ada dua orang anak (anak sulung dan anak bungsu) dimana anak bungsu adalah anak yang sedang dinantikan oleh Bapa sekarang ini untuk kemudian terjadi kegerakan. Anak bungsu adalah anak yang hanya menginginkan tinggal di rumah Bapa seperti yang dikatakan oleh anak bungsu saat ingin kembali pulang dia berkata “aku hanya ingin tinggal di rumah Bapa” “aku hanya ingin tinggal didekat Bapa” (dalam terjemahan yang lain). Kenapa? Karena dia sudah mencoba untuk tinggal di luar Bapa dan tidak mendapatkan apapun karena yang terbaik adalah tinggal di rumah Bapa.

“Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.”

Anak bungsu berbicara tentang 2 hal yaitu ketulusan dan kerelaan dimana ketulusan dan kerelaan yang dilakukannya itu sampai diluar batas kemanusiaannya, sampai diluar batas kekuatannya sebagai manusia. Ketulusan dan kerelaan sampai di titik dimana dia berkata “aku tidak inginkan apa-apa”, “aku hanya ingin dekat Bapa dan bekerja untuk-Nya (kerelaan dari dalam hati-Nya). Anak bungsu tidak mempunyai motivasi atau keiinginan yang lain selain hanya tinggal didekat Bapa dan melayani-Nya karena anak sulung juga melayani Bapa tetapi dia tidak punya hati untuk tinggal di dekat Bapa sekalipun dia tinggal bersama Bapa, yang di inginkannya hanya sebuah prestise, sebuah penghargaan, sebuah pesta (menginginkan kambing domba). Sesuatu yang lama dia pendam didalam hatinya untuk Bapa berikan sehingga inilah salah satu yang membuatnya marah ketika anak bungsu pulang justru dia yang diberikan kambing domba. Didalam Tuhan terkadang apa yang kita mau atau inginkan justru bukan itu yang Tuhan mau tetapi sewaktu kita melayani dengan ketulusan dan kerelaan Tuhan justru memberikan jauh lebih banyak dari apa yang kita inginkan.

Hal yang membuat anak sulung marah adalah karena dia berpikir bahwa dia sudah melakukan segala hal buat Bapa, melakukan segala hal yang Bapa ingin dia lakukan TETApi oleh karena ada keinginan atau motivasi yang lain didalam hatinya yaitu menginginkan pesta, menginginkan penghargaan dari Bapa sehingga ketika anak bungsu kembali pulang dan diberikan pesta (kambing dan domba) dia menjadi marah bahkan hal yang terbesar yang membuatnya marah sebenarnya karena dia melihat anak bungsu diberikan 3 hal saat dia kembali pulang yaitu: CINCIN, JUBAH dan KASUT dalam satu hari. Apabila kita membaca seluruh kisah dalam Alkitab tidak ada seorang pun tokoh yang oleh Bapa diberikan 3 hal dalam satu hari seperti yang diberikannya kepada anak bungsu. Yusuf hanya diberikan jubah, Musa hanya diberikan tongkat (yang menggambarkan otoritas), dan murid-murid hanya diberikan kasut (kerelaan untuk memberitakan Injil). Tuhan menginginkan kita seperti anak bungsu ini karena di akhir jaman ini Tuhan akan membangkitkan GENERASI ANAK BUNGSU yang melayani dengan ketulusan, kemurnian, kerelaan sampai melewati batas limit kemanusiaannya (kekuatannya sebagai manusia) untuk kita juga menerima 3 hal tersebut.


1)      JUBAH


Jubah berbicara tentang panggilan atas hidup kita dimana orang akan mengetahui siapa orang tersebut dari melihat jubah yang dipakainya. Ada jubah khusus buat anak bungsu dimana semua orang, semua hamba-hamba di rumah Bapa menyambut kembalinya anak bungsu.

Anda mungkin merasa tidak layak lagi untuk melayani Tuhan tetapi sebenarnya yang terpenting adalah hati saudara mau berkata “kali ini aku ingin kembali melayani di rumah Bapa”, yang saudara inginkan hanya berada didekat Bapa, tidak akan kemana-mana lagi apapun yang terjadi atas diri anda, sekalipun tidak mendapatkan sesuatu itu tidak menggoyahkan anda untuk selalu tinggal didekat Bapa.



2)      CINCIN


Ini hal yang ajaib karena sesungguhnya anak bungsu sudah kehilangan otoritas sewaktu dia memilih berada diluar rumah. Setiap kita seharusnya mengerti bahwa kita memiliki otoritas, anak sulung seharusnya mengerti bahwa dia memiliki otoritas. Dia melayani di rumah Bapa, melakukan apa yang Bapa inginkan tetapi dia tidak mengerti bahwa semua yang Bapa miliki adalah miliknya juga.

Hal yang membuat anak sulung bisa seperti itu karena di hatinya tidak memiliki ketulusan dan kerelaan sampai di luar limitnya. Seperti Yakub sebelum namanya diubah menjadi Israel harus melalui ujian yaitu melalui Laban mertuanya yang terus mengubah-ubah upahnya bahkan sampai tidak diberikan upah untuk menghasilkan seorang Israel yang hatinya tulus karena dengan memiliki ketulusan kita akan mempunyai otoritas karena yang kita muliakan hanya Tuhan. Orang yang tidak mempunyai ketulusan, ketika dia berdoa yang dia muliakan dan tinggikan bukan Tuhan tetapi dirinya bahkan akan bertepuk dada ketika berhasil.

Kenapa Tuhan mengijinkan atau memberi uang (harta) kepada anak bungsu yang menjadi bagiannya?

            Itu sebenarnya adalah investasi Bapa bagi hidup anak bungsu karena kalau seandainya dia tidak pernah merasakan tinggal diluar Bapa mungkin dia akan terus seperti anak sulung yang tiap hari hanya menuntut harta (meminta diberikan pesta) dan kebanyakan kita pun seperti itu datang ibadah hanya untuk meminta atau hanya menginginkan berkat padahal sebelum kita mengucapkannya Dia sudah mengetahui segala kebutuhan kita. Jadi jangan meminta sesuatu kepada Tuhan apabila Tuhan tidak menggerakkanmu untuk meminta karena itu permintaan tanpa kuasa didalam kehendak-Nya, tetapi mintalah sesuai dengan kehendak-Nya karena itu bukan menyenangkan kedaginganmu tetapi menyukakan Tuhan. Anak bungsu ketika kembali, dia kembali dengan sebuah paradigma, kembali dengan hati yang sangat berbeda.

            Anda mungkin berkata bahwa anda sudah melayani tetapi belum mengalami terobosan, jangan takut karena mungkin Tuhan ijinkan itu semua sampai anda benar-benar di luar limit, benar-benar tulus untuk melayani dan mengasihi Tuhan bukan didasarkan atas pertolongan Tuhan atas hidupmu, bukan lagi atas berkat-Nya. Ketulusan itu perlu terus di uji terus menerus seumur hidup kita karena ketulusan adalah hanya mengikuti dan menginginkan di dekat Bapa, didekat hati-Nya, mengikuti apa yang Bapa mau.



3)      KASUT KERELAAN


                  Kerelaan yang tidak biasa, kerelaan sampai di luar limit, di luar batas kemanusiaan kita seperti Firman Tuhan berkata kalau orang mengajakmu berjalan satu mil maukah engkau berjalan di mil-mil berikutnya? Kerelaan untuk kita melayani menghasilkan jiwa-jiwa, menghasilkan sebuah generasi berikutnya, kerelaan kita untuk memuridkan menginvest sesuatu buat kehidupan mereka (waktu dan perhatian).


                  Mari kita melangkah ke step berikutnya tidak lagi hanya pada kegiatan tapi pada generasi, bukan lagi pada event tapi pada movement. Gereja tidak bisa hanya tinggal pada hal yang biasa tapi masuk kepada yang berikutnya yaitu perlu movement (pergerakan) dimana setiap orang harus menjadi Bapa, memuridkan orang lain, menjadi Bapa bagi banyak orang. Seperti anak bungsu yang oleh Bapa setelah diberi investasi malah pergi tetapi kemudian akhirnya kembali, jadi apabila anda menginvestasi sesuatu buat jiwa-jiwa itu tidak akan pernah gagal karena anak tidak akan mendapatkan investasi di luar seperti itu. Ini waktunya untuk masuk ke step berikutnya yaitu generasi.





       Tuhan Yesus Memberkati,
            Only by His Grace



                             
                          Untung Bongga Karua

MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama)

  MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama) Sabtu, 04 Februari 2023 Ps Joseph Hendrik Gomulya           Sejak awal manusia diciptakan Allah ...