Sabtu, 18 Februari 2017

YANG LEBIH MUDAH DIKATAKAN


Ps. Joseph Hendrik Gomulya.

"Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita" (Kolose 2:13 TB) 

Firman Tuhan ini datang kepada setiap kita untuk menyatakan bahwa di saat kita berada dalam setiap pelanggaran-pelanggaran di masa lalu sehingga kehidupan ROHANI kita menjadi mati, akan tetapi di saat kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka kasih Tuhan yang begitu besar itu membuat kita kembali menjadi hidup karena Dia selalu bersama-sama dengan kita, dilepaskan dan diampuni dari segala pelanggaran-pelanggaran kita.

"Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.”  (Lukas 5:17-26 TB)  

Ini adalah cerita tentang orang lumpuh yang di sembuhkan oleh Tuhan Yesus yang disaksikan oleh beberapa orang Farisi dan ahli Taurat. Ketika Tuhan Yesus berkata dalam ayat 23 “Manakah lebih mudah, mengatakan Dosamu sudah diampuni, atau  mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah?”

Apabila anda sedang mendoakan orang sakit dalam sebuah ibadah kesembuhan dimana ayat ini seperti sebuah pilihan yang mesti dijawab maka anda mungkin akan berkata bahwa “Dosamu sudah diampuni” ditambah dengan pernyataan Yesus  dalam ayat 24 dihadapan orang banyak bahwa di dunia ini “Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”. Tetapi di sisi lain Bapa di Sorga sangat berat untuk memberikan Putra-Nya yang tunggal untuk datang ke dunia ini untuk menebus dosa dan kesalahan manusia. Jadi dengan kata lain bahwa sebenarnya sangat  tidak mudah untuk anda dan saya berkata kepada orang yang sakit dalam sebuah ibadah kesembuhan bahwa “Dosamu sudah diampuni” karena bukan melalui sebuah pernyataan bahwa “Dosamu sudah diampuni” tetapi anda dan saya harus memiliki sebuah pengertian dengan selalu melihat dan mengingat pengorbanan Putra-Nya yang tunggal Yesus Kristus diatas kayu salib. Ini berarti apabila anda dan saya belum menyadari atau belum mempunyai pengertian bahwa dosa anda dan saya telah diampuni oleh Bapa di Sorga melalui karya penebusan melalui pengorbanan Putra-Nya yang tunggal Yesus Kristus di kayu salib maka sangat tidak mudah untuk mengatakan “Dosamu sudah diampuni”

"Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" (Roma 8:32 TB) 

Oleh kasih-Nya yang begitu besar Bapa di Sorga rela menyerahkan Putra-Nya yang tunggal Yesus Kristus untuk menebus dosa setiap umat manusia karena Bapa di Sorga mempunyai Mega Planning atau rencana yang besar untuk setiap kita menerima anugerah-Nya yang besar dimana anugerah itu bekerja didalam kehidupan anda dan saya. Di saat anda dan saya menerima anugerah dan perkenanan dari Tuhan maka segala berkat-berkat Tuhan itu menjadi bagian dalam kehidupan setiap kita karena jauh sebelumnya Tuhan Yesus telah terlebih dahulu menerima perkenanan dari Bapa-Nya di Sorga. Mari setiap kita menangkap isi Hati Tuhan untuk kita bisa berjalan seirama dengan-Nya.

Karya penebusan dan pengampunan melalui penyaliban Putra-Nya adalah karena Bapa tidak menyukai manusia selalu hidup didalam dosa sehingga Bapa merelakan Putra-Nya untuk menghapuskan segala dosa dan pelanggaran manusia. Jadi setiap anugerah dan kasih karunia yang anda dan saya terima itu berada dalam otoritas-Nya, hanya orang-orang yang belum mau menerima dan mendengarkan pemberitaan kasih karunia dan anugerah dari Tuhan yang akan hidup dalam perbuatan dosa. Jadi ketika kita menerima anugerah dan kasih karunia itu maka sangat penting untuk kita menghidupinya dengan menghargai akan pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib dengan tidak pernah lagi bermain-main dengan dosa.

"Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang,"  (1 Korintus 15:10 a TB)

Ini adalah pernyataan dari Rasul Paulus seorang pengkhotbah yang menyatakan kasih karunia Tuhan secara radikal ketika memberitakan injil. Rasul Paulus ingin menjelaskan kepada kita semua bahwa orang yang mampu menghidupi ketika kasih karunia Tuhan dalam kehidupannya maka orang itu akan mempunyai standar yang lebih tinggi dari orang-orang yang tidak menghidupi kasih karunia dalam kehidupannya.

Mari kita melihat salah satu contoh dari suatu perbandingan yang sangat jelas tentang prinsip hidup dalam otoritas Hukum Taurat dan prinsip hidup dalam otoritas Kasih Karunia. Dalam otoritas Hukum Taurat dikatakan  “JANGAN BERZINAH” dalam otoritas Kasih Karunia dikatakan bahwa memandang perempuan serta mengingininya itu sudah dianggap berzinah didalam hati  (Matius 5:28 TB).

Orang yang menghidupi Kasih Karunia dalam hidupnya itu bukan hanya melalui perkataan saja tetapi melalui buah-buah yang menghasilkan buah-buah Kasih Karunia dalam hidupnya, jadi orang yang hidup dalam Kasih Karunia Tuhan akan mempunyai suatu standar yang lebih tinggi untuk nantinya tidak melakukan lagi perbuatan-perbuatan dosa dalam hidupnya. Inilah yang Rasul Paulus lakukan dalam kehidupannya sebagai seorang Rasul yang selalu mengkhotbahkan tentang Kasih Karunia dan juga menghidupi Kasih Karunia tersebut dimana Rasul Paulus menyatakan dirinya BEKERJA LEBIH KERAS DAN LEBIH KERAS LAGI DALAM MENGIKUTI TUHAN SERTA MELAKUKAN PELAYANAN DAN PEKERJAANNYA UNTUK MELAYANI DAN MENGHIDUPI SETIAP KEBUTUHAN JEMAAT TUHAN YANG ALLAH PERCAYAKAN DI DALAM KEHIDUPANNYA SEBAGAI RASUL TUHAN. Jadi tanda bahwa anda dan saya telah menerima Kasih Karunia Tuhan adalah ketika anda dan saya tidak  lagi menyia-nyiakan Kasih Karunia itu lagi.

Mari kita terus membangun hubungan keintiman dengan Tuhan lebih lagi untuk menangkap kerinduan Hati-Nya, selalu  menghargai setiap anugerah dan Kasih Karunia-Nya, selalu meminta pewahyuan yang baru setiap hari melalui rhema yang kita dapatkan dari membaca Firman-Nya sehingga setiap perkataan rhema yang kita ucapkan dapat membangun dan menjadi berkat bagi jemaat Tuhan yang lainnya serta orang-orang yang berada di sekitar kita.

Amin…

 
 
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama)

  MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama) Sabtu, 04 Februari 2023 Ps Joseph Hendrik Gomulya           Sejak awal manusia diciptakan Allah ...