Jumat, 07 Agustus 2020

MEMASARKAN TUAIAN (berkat pelipatgandaan)

 

MEMASARKAN TUAIAN

(berkat pelipatgandaan)


Virtual meeting bersama Ps Joseph Hendrik Gomulya, M.Th





    Apabila membaca judul kotbah ini terdengar seperti judul dari sebuah seminar pemasaran hasil pertanian. Hari ini kita akan belajar bagaimana hasil tuaian itu bisa memiliki value sehingga terjadi pelipatgandaan. Setiap kita mengetahui bahwa seorang petani akan melewati beberapa tahapan-tahapan sampai memperoleh atau menuai hasil dari apa yang ditanam dan telah ditaburnya. Adapun tahapan-tahapan yang selama ini kita ketahui adalah sebagai berikut:

1)    BEKERJA mempersiapkan benih.
2)    BEKERJA mempersiapkan lahan.
3)    BEKERJA menabur benih.
4)    BEKERJA merawat dan memberi pupuk.
5)    BEKERJA menuai (panen).

 

“1) Maka timbullah kelaparan di negeri itu. -- Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin 2) Lalu Tuhan menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3) Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.” (Kejadian 26:2-3 TB)

“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.” (Kejadian 26:12 TB)

 

          Apabila seorang petani memiliki lahan seluas 1 hektar, kemudian dia mempersiapkan lahan tersebut yang kemudian ditaburi dengan benih gandum, dirawat dan diberi pupuk dan setiap panennya petani ini bisa menuai atau memanen sebanyak 5 ton gandum. Nah pada ayat diatas firman Tuhan berkata Ishak menabur di tanah yang kering dan kemudian menuai seratus kali lipat ditahun itu juga. Kita umpamakan petani ini adalah Ishak, apakah Ishak secara tiba-tiba akan menuai gandum sebesar 500 ton gandum karena menuai seratus kalo lipat? Rahasianya dimana? Ternyata masih ada satu proses lagi yang banyak orang atau petani yang tidak mengetahuinya, yaitu tahapan BEKERJA memasarkan tuaian tersebut.


          Kebanyakan penuai hanya fokus bagaimana menuai sebanyak-banyaknya tetapi tidak mengetahui bagaimana memasarkan dan menjual tuaian tersebut. Berbeda dengan Ishak yang mampu melihat peluang atau kesempatan sehingga dia mengetahui tahapan tersebut sehingga hasil yang didapatkannya seratus kali lipat. Kok bisa? Bagaimana caranya?


          Perlu diingat bahwa Ishak menabur benih pada saat masa kekeringan atau kelaparan sedang melanda, dia bekerja keras sedari awal mempersiapkan lahannya, menggali kembali sumur-sumur ayahnya, merawat benih-benih tersebut sampai masa tuaian itu tiba. Pada masa kekeringan atau kalaparan semua barang harganya pasti sangat mahal, dan gandum yang dimiliki oleh Ishak selain kualitasnya baik dia juga mampu memasarkan dan menjualnya dengan sangat baik. Jadi inilah rahasia bagaimana Ishak bisa menuai seratus kali lipat.


          Bagaimana penerapan konsep tersebut dalam pelayanan? Nah Saat-saat sulit seperti ini, saat seseorang melayani dan memperhatikan tuaian atau jiwa-jiwa yang dilayaninya dengan baik. Maka setiap jiwa-jiwa yang dituai akan bercerita kepada banyak orang tentang pelayanan yang diterimanya karena saat orang lain menjauh dan tidak memperhatikan mereka, orang ini justru melayani dan memperhatikan mereka. Kasih, pelayanan dan perhatian kepada jiwa-jiwa akan terlihat berbeda karena yang dibagikan adalah kasih Tuhan. Jadi pelipatgandaan tuian akan terjadi dengan sangat cepat di saat-saat seperti ini.

          Yang mesti setiap kita pelajari di saat-saat seperti ini adalah bagaimana memiliki respon yang cepat menangkap perubahan, menangkap setiap peluang atau kesempatan dan cepat menangkap apa yang Tuhan inginkan. Hanya orang-orang yang memiliki respon cepat menangkap apa isi hati Tuhan yang akan bisa bertahan dan berhasil dalam pelayanannya.


          Gereja sebenarnya adalah wadah atau tempat untuk melatih jiwa-jiwa atau jemaat. Melatih karakter dan melatih seseorang sampai dirinya dipercaya oleh Tuhan dalam banyak hal sampai berhasil dan hidupnya bisa berdampak sampai orang tersebut juga menjadi seorang penuai. Jadi gereja jangan hanya fokus kepada ibadah tetapi harus bisa melatih jiwa-jiwa atau jemaat melalui kotbah yang bisa mengubahkan karakter mereka, selalu ada pewahyuan firman Tuhan yang disingkapkan dan pengertian-pengertian baru yang diberikan.


          Kemajuan jemaat bergantung dari makanan rohani yang mereka terima. Kapasitas yang Tuhan berikan kepada anda bergantung daripada apakah kapasitas anda juga meningkat atau tidak? Apakah pola pikir anda meningkat atau tidak? Cara anda berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain apakah meningkat atau tidak? Karena hasil dari seseorang berjemaat terlihat dari dampak yang diterima oleh seseorang selama berjemaat. Nah inilah yag perlu di evaluasi oleh gereja, yang dalam dunia bisnis inilah yang disebut dengan memasarkan hasil tuaian.


          Jadi jangan sampai tuaian yang didapatkan tetapi kemudian tidak berbuat apa-apa. Jangan sampai jiwa-jiwa atau jemaat hanya datang beribadah setiap minggu, menjadi jemaat tetap, memberi persembahan dan perpuluhan tanpa pernah melatih mereka. Setiap jiwa-jiwa atau jemaat harus bisa dimuridkan atau dibapai sebagai bekal atau persiapan bagi mereka juga untuk melayani Tuhan, menjadi penuai di ladang Tuhan dan untuk mereka bisa berhasil di tengah masyarakat sehingga itu harus dilakukan terus-menerus.


          Tetapi sayangnya banyak gereja Tuhan yang terjebak dalam konsep agamawi dengan hanya memberi ruang dan kesempatan orang datang beribadah dan tidak berbuat apa-apa karena pengajaran dan sikap sehari-harinya memang sudah seperti itu, bahwa yang melayani hanyalah gembala dan orang-orang tertentu atau pilihan. Padahal semua orang yang sudah percaya, itu sudah dipilih Tuhan berbeda dengan konsep Perjanjian Lama.

 

“Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Lukas 10:2 TB

 

          Tanggung jawab gereja adalah bagaimana menghasilkan penuai-penuai dengan memberi mereka kesempatan dan ruang. Nah dalam komsel, itulah tempat pelatihannya. Di situ mereka belajar bagaimana memberikan kesaksian, belajar bagaimana memimpin pujian, belajar bermain musik, belajar bagaimana sharing atau membagikan firman Tuhan, tempat dimana benih kasih itu ditanamkan dan tempat dimana mereka bisa saling mengasihi dan memperhatikan satu sama lainnya sampai kemudian mereka juga bisa merangkul orang lain. Melalui komsel inilah hasil tuian tersebut mempunyai value dan kualitasnya semakin meningkat. Itulah rahasia bagaimana tuaian bisa dituai seratus kali lipat dengan cepat.


          Jadi tuaian itu adalah jiwa-jiwa, seberapa berharga jiwa-jiwa tersebut bergantung dari bagaimana mereka dilatih dan dipersiapkan sebelumnya sampai kualitas yang mereka miliki semakin meningkat. Memaksimalkan potensi yang mereka miliki dan membawa mereka kepada destiny Tuhan atau membantu mereka menemukan destiny mereka maka mereka akan mengejar hal itu.


          Melatih jiwa-jiwa atau jemaat akan membuat kualitas tuaian terus menjadi semakin bernilai dari waktu ke waktu sampai mereka juga menjadi penuai dan memuridkan yang lain. Mari setiap kita menginvest waktu dan tenaga untuk melatih dan memberikan mereka arahan. Hari-hari ini adalah peluang atau kesempatan untuk memenangkan banyak jiwa-jiwa dengan bergerak dan juga memotivasi orang lain untuk juga bergerak bersama-sama.

 

 

Amin, Tuhan Yesus Memberkati.

Jurnalis: Untung Bongga Karua





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama)

  MENGENAL ISI HATI BAPA (Bagian Pertama) Sabtu, 04 Februari 2023 Ps Joseph Hendrik Gomulya           Sejak awal manusia diciptakan Allah ...